Ia menyadarkan aku bahwa ngomong sambil marah-marah itu ngga akan dimengerti
Ia mengajariku agar mau berbicara
Ia pula yang mengajariku kapan harus diam
Ia mengingatkan aku untuk mau belajar
Ia mengajariku dengan sabar, perlahan
melalui contoh dan kesalahan-kesalahan yang kuperbuat
Ia membuatku rindu
Ia-lah sebaik-baiknya Guru
karena Ia adalah Guru dari segala semesta, segala penjuru

Bagaimanapun, aku adalah murid yang nakal dan tidak tahu diri. Sudah punya Guru Mahabesar, tapi selalu saja seenaknya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s