Day #28; Perjalanan Wana Segara

Tepat satu minggu lagi kami akan pulang ke Bandung. Hmmm, jadi teringat niat saya kemari…

Saya datang kesini dengan sebuah alasan utama yang cukup simpel. Buat orang lain, mungkin ini adalah alasan bodoh tak berdasar yang cuma bisa ngabis-ngabisin duit. Tapi buat saya, alasan ini sangat bermakna, penting.

Saya ingin membuktikan pada diri saya sendiri bahwa bidang yang saya pikir saya sukai adalah sebenar-benarnya bidang yang saya sukai.

Sebelum kerja praktek ini, saya selalu berandai-andai bahwa betapa menyenangkannya bekerja di tempat seperti ini. Ketemu banyak pesawat tiap hari, menyediakan data, ke kantor dari pagi sampai sore, santai, dll. Tapi kita tidak bisa langsung percaya pada dua tahun per-andai-andai-an maupun feeling sesaat kan? Apalagi kalau belum pernah kita alami sendiri. Oleh karena itu, 4 bulan yang lalu saya BERHENTI berandai-andai dan memutuskan untuk coba langsung.

“Otak ini sudah jenuh. Kalaupun mau pergi cari suasana baru, harus sekalian ke tempat yang jauh.”

Saya sambut ajakan seorang teman untuk kerja praktek di Bali. Teman saya sangat bersemangat, terlebih lagi seorang teman juga ikut. Dan ya, akhirnya 3 bulan kemudian kami sudah berada disini.

Lima hari pertama di Bali, saya memang berniat meninggalkan semua label yang menempel pada diri saya. Saya bukan sekjen, bukan orang yang baru saja lepas dari teror semester enam, bukan mahasiswa yang sedang kerja praktek, saya bukan siapa-siapa, bahkan saya bukan nurin. Hanya manusia yang ingin lepas dari ikatan yang ia ikat sendiri di teralis Bandung. Hari-hari selanjutnya, saya meng’utuh’kan diri, fokus.

Diperkenalan dengan lingkungan kantor. Inilah dunia yang saat kita terbangun dari tidur, yang dipikirkan bukanlah udah belajar buat UTS atau belum, bisa pinjem catatannya siapa, udah fotocopy belum, follow up rapat BP gimana, dll. Tapi inilah dunia dimana kita dihadapkan dengan sebuah pertanyaan asing yang beberapa kali datang dari orang lain, “Kerja dimana, mba?”.

Kemudian, ‘waktu’ berbicara. Yah, buat saya 28 hari cukup berbicara.
Ternyata kali ini saya tidak bisa menipu alam bawah sadar saya.
Saya ngga suka ngantor di bidang ini.
Ngga betah.
Entahah, rasanya terlalu monokrom. Pekerjaan di kantor hanya itu-itu saja dan pesawat pun tidak mampu membuat saya betah di kantor.

‘Jarak’ ternyata juga berbicara, saya ingin segera menikmati ikatan yang sebelumnya ingin saya longgarkan sejenak.

Dengan demikian, hal yang ingin saya buktikan ternyata tidak terbukti. Rasanya beruntung, sebelum lulus bisa tahu bahwa bidang ini tidak memuaskan hati. Perjalanan Wana Segara telah berhasil membuat saya membulatkan tekad untuk segera serius mulai di bidang lain yang tertulis di favourite-list.

Dengan pahit manisnya, perjalanan ini lebih dari sekedar istilah ‘tepat’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s