Sekedar Bercerita

Sebelumnya, saya minta maaf karena isi postingan berikut (lagi-lagi) adalah tentang seorang obyek bernama ‘saya’ –yaiyalah ya namanya juga blog saya, bukan blog kita apalagi blog anda. Jika tidak dimaafkan juga sebenarnya gapapa. Yang jelas, tulisan ini dibuat dengan maksud agar kita bisa melihat gajah di pelupuk daripada sibuk stalking semut disebrang sungai. Lanjut.

Saya waktu kecil tinggal di Bandung. Dari foto-foto jaman dulu, saya sering sekali diajak main ke taman lalu lintas, juga naik andong di depan kampus kembang. Kemudian kami pindah ke Jakarta, tak lama kami pindah lagi sehingga saya menghabiskan masa taman kanak-kanak di Reno – Nevada, lalu saya sekolah di Jakarta, dan akhirnya kuliah di Bandung. Seumur hidup tinggal di kota besar. Mama memberikan waktu dan sayangnya tanpa kurang sesuatupun. Orang tua menafkahi total. Minta apapun asalkan menunjang sekolah, disediakan dana. Jadi bisa dibilang, seumur hidup saya hidup enak, hidup berkecukupan. Hidup seperti ini sangat memudahkan seseorang untuk berangan-angan tinggi. Cita-citanya selangit. Tapi ya sampai disitu saja, di dalam kotak yang bernama kenyamanan.

Apakah ini sebuah kesempurnaan? Tentu saja tidak. Kau tahu, orang yang cuma tahu hidup enak itu (biasanya) rentan stres. Sedikit saja tidak enak, protes, dikit-dikit protes, mau enaknya saja, ngga mau usaha yang lebih, dan hidup semaunya sendiri –yang terakhir itu komentar Papa terhadap saya. Yah, mungkin ini masalah mahasiswa jaman sekarang, biasa dilayani. Tentu saja karakternya jauh berbeda dengan mahasiswa angkatan 70an. Seperti waktu saya berbincang dengan Papa, kata saya, “Tingkat vulnerability-nya beda, pa”. Yang kemudian Papa jawab, “Iya, tingkat juangnya juga pasti berbeda sekali.” Mungkin banyak orangtua yang berpikir bahwa anaknya ngga perlulah seperti dirinya yang susah-susah ‘berjuang untuk hidup’ (memperjuangkan sandang, pangan, papan dan pendidikan). Namun ketahuilah pak bu, perjuangan tetap harus diajarkan walaupun dengan metode yang berbeda.

Saya beberapa kali sering khilaf, suatu hari iseng nyeletuk minta dibeliin tablet dengan dalih agar mudah membaca slide kuliah. Papa saya kemudian bilang, “In, harga kamera kamu itu, bisa ngebiayain seseorang kuliah di swasta sampai lulus.” Kalau papa bilang itu, saya langsung diam. Diam karena saya memang salah. Mama juga, “Ya ampun, kamu kan kemaren baru beli hard disk”. =,=

Papa & Kakek menjaga saya tetap menjejak tanah. Saat saya terbiasa mengkonsumsi makanan-makanan enak ala cafe, Papa mengingatkan bahwa makan nasi + tempe itu jauh lebih sehat. Saat saya ngeluh ngga punya kendaraan pribadi, saya ingat Kakek pernah cerita kalau dulu beliau setiap hari naik sepeda dari Bandung Selatan ke kampusnya di ikip (sekarang upi) –gila kan itu nanjaknya parah.

Kesederhanaan itu penting, agar kita tetap bisa mendengar isak perut yang lapar, memeluk anak-anak yang tak pernah dipeluk, dan melihat dengan jelas tangan-tangan yang terjulur di jalan. Mereka menjaga kita tetap waras, tetap manusia.
Hal-hal yang nampak kecil di mata kita, bisa dipastikan merupakan hal besar buat orang lain. Jadi, ini bahan renungan kita bagaimana berpikir besar mengenai hal-hal kecil yang terlihat remeh.

Ah, satu hal yang merupakan pesan dari Papa & Mama, jangan pernah punya hutang budi pada orang lain. Kalo bisa ngga, ngga. Sebenarnya saya agak bingung dengan pesan moral ini. Tidak bisakah kita dengan tulus menerima bantuan orang lain? Dari tanggapan keduanya, saya simpulkan bahwa mungkin ketulusan bukan jawaban dari kehidupan. Hidup itu lebih ganas dari lumpur penghisap maupun tanaman pemakan serangga, mungkin. Tidak cukup menggunakan sebuah kata sifat ‘tulus’. Ah mungkin tulus itu dimaknai sama dengan kata naif walaupun keduanya berbeda. Entahlah, saya punya persepsi yang agak berbeda mengenai pesan ini.

Semakin umur bertambah 1 dan kelipatannya, semakin pandai kita menjawab pertanyaan-pertanyaan kehidupan, namun tetap saja nilai akhirnya adalah nol besar. Kita tidak akan menemukan apa-apa selain kita sendiri yang sedang bingung dengan skenario yang dibuat oleh Tuhan.

Advertisements

2 thoughts on “Sekedar Bercerita

  1. dmeidianr says:

    nurin yang baik,,
    saya sih sebenarnya sepakat dengan pesan dari Papa & Mama, jangan pernah punya hutang budi pada orang lain. Kalo bisa ngga, ngga. ini bener banget, orang tua saya juga nekenin hal yg sama, kebayang harus mandiri, susah juga sih, tapi saya yakin itu yang terbaik. supaya ketika misalnya kita sukses nanti, tidak ada orang yang bilang, ‘ah si itu kan bisa seperti gitu sekarang gara-gara gua’. nah mari hindari seperti itu. apalagi nanti klo kita kerja di lembaga seperti KPK, nah lho gimana?

    • nuririn says:

      oooooo.. hmmm, iya juga si. Untuk bagian ‘harus mandiri’ saya juga setuju, ka der. Tapi kalo sama sekali ngga mau nerima bantuan orang lain kok rasanya gimana gitu ya soalnya kan manusia itu makhluk sosial, saling membutuhkan.
      Jadi, maksudnya ‘hutang budi’ itu artinya lebih berat dari sekedar ‘bantuan sewajarnya’ gitu ya?
      (bantuan sewajarnya = pinjem bulpen, ngewarisin buku kuliah, dll)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s