Pahit

“Ucapkanlah walau pahit”, begitu kata Rasulullah. Bukan ‘dengarkanlah walau pahit’. Yang saya tangkap, tentu saja sesuatu yang pahit itu dirasa oleh pembicara, bukan oleh pendengar.

Mungkin maksud dari pesan itu adalah komunikasi. Banyak dari kita menolak untuk berkomunikasi. Menganggap lawan bicara adalah cenayang yang bisa membaca pikiran, sehingga timbul pikiran “kenapa sih ni orang begini. seharusnya dia tau pikiran gue. seharusnya itu ngga perlu diomongin lagi. seharusnya dia ngerti apa yang gue maksud. masa harus gue omongin lagi, emangnya dia bayi?? Seharusnya. Seharusnya.” Pada kenyataannya, sang lawan bicara bukan peramal, bukan ‘mentalis’, bukan pembaca pikiran. Mereka manusia, sama seperti kita yang kadang mengalami mispersepsi, ga ngerti, dibuat bingung oleh tingkah manusia lain.

Akuilah, kita sering menolak untuk berkomunikasi. Terutama jika ego memuncak.
Enggan menyampaikan keadaan, membiarkan orang lain menebak-nebak.
Pahit itu merupakan suatu hal yang menyebabkan kita berat untuk mengatakan suatu kebenaran yang sebenarnya urgent harus dikatakan, walaupun itu merugikan diri sendiri.

20120117-062959.jpg
Photo: lorong fisika itb. @nuririn

Benar atau salah, sia-sia atau tidak, kadang itu tergantung bagaimana cara kita melihatnya.

Advertisements

2 thoughts on “Pahit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s