Selepas magrib, aku berhenti di sana. Di bengkel pinggir jalan, tepat di pertigaan taman sari dan dayang sumbi. Bandung diguyur hujan dan jalanan sudah gelap-gelap. “Pak, standard dua si motornya ngga bisa diangkat. Kyanya pernya harus diganti.”
“Ooh, duduk dulu, teh..”
Nampaknya si bapak masih sibuk melayani motor sepasang kekasih yang datang sebelumku itu. Mau tak mau, aku menunggu. Lebih baik menunggu daripada standar yang tak bisa diangkat itu menggeret permukaan aspal sepanjang perjalanan ke kanayakan. Sudah kuduga! cepat atau lambat aku harus ke bengkel juga untuk mengurus ini. Percayalah suaranya benar-benar bikin ngilu.

Aku duduk di bangku kayu yang reyot menghadap jalan, hujan dan malam. Mahasiswa-mahasiswa berseliweran terburu menuju gerbang belakang kampus. Selama itu, benar-benarlah hujan bertambah deras. Udara semakin dingin, dan jaketku tidak banyak membantu karena sebelumnya sudah basah karena gerimis yang intens. Entah sudah berapa lama aku duduk di situ. Yang jelas, pemandangan hujan dan jalanan yang gelap begitu memabukkan. Cairan dari atas sana. Jatuh ke aspal. Suara terjangan air ke bumi itu seperti anestesi. Sesekali ada sorot lampu dari kendaraan yang lewat. Membuat lupa. Tak terpikirkan sama sekali untuk sibuk dengan gadget karena suasananya yang mendalam.

Oh, hampir satu jam ternyata. Terakhir, sebelum pulang, wangi ayam goreng dari warung sebelah mengingatkan aku bahwa aku belum makan apapun sejak pagi. Kulirik ke kiri, warung ramai. Jadi kupulang saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s