Dia pikir rasanya persis seperti menari-nari di dalam sebuah kubah kaca tertutup. Mata-mata di luar yang memandang, begitu ingin menangkapnya. Tapi dia hanya menari-nari di sana, sesekali menjawab sapa kemudian menari lagi. Tidak sadar bahwa setiap gerak tungkai kaki dan kerlingan jemari memancing mata-mata untuk mengikuti. Maka ia tetap menari. Berlindung di dalam kubah. Dulu, kubah itu pernah retak, oksigennya tersedot habis keluar. Dia bertahan walaupun kelopak mata pun tak sanggup ia gerakkan. Sekarang ia sudah bisa menari seperti sedia kala, bahkan kali ini lebih indah dari duet capung yang diiringi sepasang perkutut.

Advertisements