Beberapa pucuk surat (part 1)

Beberapa hari yang lalu, saya berumur 15 tahun untuk yang ke-8 kalinya.
Tapi sejujurnya, entah sejak umur berapa, saya udah ngga pernah excited dengan fenomena tahunan yang orang-orang sebut dengan istilah ulang tahun. Yang saya syukuri cuma satu hal: bertemu keluarga dan sahabat-sahabat.
Selebihnya, saya cuma tau bahwa angka yang harus saya torehkan setahun kedepan adalah dua puluh dua.

Baiklah, supaya ulang tahun yang ke-15 kali ini lebih berkesan, saya akan menuliskan beberapa pucuk surat untuk beberapa orang:

=======

Rama, kau bilang kita harus lebih sering saling bercerita. Aku setuju. Terutama mengenai perbincangan kita mengenai ruang kosong, pintu, dan kunci. Tentang perasaan yang mungkin secara tidak sengaja dimanfaatkan orang lain, juga tentang perasaan orang lain yang tidak sengaja terpancing. Dari cerita-cerita siang itu, kita sepakat bahwa sesuatu yang orang-orang bilang indah itu ternyata memang indah apa adanya. Sampai-sampai, kita takut sendiri terhadap keindahan itu. Takut diri, hati dan batin, hilang kesadaran. Dan betapa hidup ini adalah teka teki dengan segala kepingan pesannya.
Ngomong-ngomong, ternyata sudah hampir 10 tahun kita berteman. Sejak aku terlepas dari bullying, dari situlah aku dengan senang hati menceburkan diri ke lingkungan pencinta komik, yang orangnya ramah-ramah dan suasananya yang selalu hidup. Mungkin hanya terlihat seperti euforia persahabatan, tapi sebenarnya lebih dari itu, disana aku menemukan nikmat menulis, menggambar, menyanyi dan bersosialisasi. Apa kau ingat, dulu ketika menyusuri jalan di depan SMP sepulang dari studio (bahkan masih dengan seragam putih biru), kita pernah berjanji, “suatu saat nanti, kita harus punya gitar listrik sendiriiii! hahaha…”

Kemudian tak terasa, beberapa bulan lalu akhirnya kau sudah mengajar Bahasa Jepang di SMA kita (walaupun cuma magang), dan aku tengah memperhatikan curah hujan dan menikmati dinginnya kota kembang.

Dua puluh dua itu bukan sekedar angka, itu adalah usia dimana seorang dewasa muda pada umumnya menghadapi pertanyaan-pertanyaan hidup yang membingungkan. Tapi ya, nikmati saja. Acungkanlah jari tengah pada pertanyaan-pertanyaan itu, selagi masih bisa.

========

Wita, kau tahu aku suka sekali main Pump (dulu mesin itu namanya DDR). Dan kau adalah perempuan yang paling nekad walaupun kau mengaku tidak merasakan sayatan sebesar apapun. Kau bilang kau merasa sudah kehilangan rasa manusiawimu.

Pesanku, jangan terlalu tough. Lepaskanlah.

Mungkin aku termasuk beruntung, menangis masih bisa jadi pelarian paling ampuh. Dan kau pasti tahu, menangis adalah tindakan intuitif setiap manusia yang hatinya ingin meledak. Kau sudah cerita, menangis sudah berkali-kali kau lakukan sebelumnya sampai akhirnya air matamu habis dan menyebabkan efek anestesi yang tak kunjung hilang.

… tapi saat kita ketemu nanti, pokoknya kita harus main Pump, makan pizza, cerita-cerita, dan sewa studio untuk motret. Walaupun kau sekarang sudah sibuk jadi doktercoaass, sempatkan ya. Lupakan sejenak dunia, dan seperti biasa.. kita bicarakan ide-ide menarik.

========

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s