Beberapa pucuk surat (part 2)

Otty, hidup ini emang kacrut. Tapi tergantung gimana cara kita melihatnya. eh, sori, ternyata dari sisi manapun terlihat kacrut.
You are one of my role model, I learn a lot from you. How we shouldn’t take things too seriously, and how we can-actually-sincerely laugh at our lives. Ah, sekali lagi, lo adalah sejatinya seorang Kugy dari novel itu!!!! I wish you can meet your Keenan as soon as possible.
Terlepas dari hadiah yang dulu lo kasi ke gue waktu SMA (red. buku Mein Kampf), gue sebenernya heran kenapa orang-orang di sekeliling lo bisa jahat amat. *eh, ternyata emang ngga ada hubungannya sama buku Mein Kampf, sori*

Sekedar saran aja, kalo lain kali punya hasrat untuk nyiram kepala orang pake minuman, jangan ditahan. Sekali-kali perlu dicoba (dan orang itu perlu dikasi pelajaran), tapi lakukan dengan gaya lo yang cool kya kulkas and with that poker face of yours.

Hidup hot-geek-guys!

Untungnya gue punya temen anak hukum, lain kali gue mau nanya lagi soal udara yang dibikin kavling ya. Walaupun pertanyaan-pertanyaan gue terdengar aneh di telinga lo, tapi itu sungguh gue pengen tau, jadi tolong maklumi saintis aneh ini.

Anw, semoga sekeripsinya lancar jaya :)

========

Ka Syifa, kata orang-orang kita mirip. Wajahnya, ke-rohis-rohis-annya, kacamatanya, kalemnya. Ah, tapi apalah saya, saya tahu persis sebenarnya secara kepribadian kita ini bertolak-belakang kan, kak. hahaha..

Bisa dibilang kalo ka syifa adalah sosok kakak yang hangat, murah senyum, tegas, tapi sabar, dengan kata lain saya melihat kakak sebagai sosok idola, dan saya adalah fans beratnya. Saya dan teman-teman selalu betah mentoring sama ka syifa. Saking betahnya, kami suka heran kok ada ya manusia sempurna kya ka syifa padahal usia kita cuma berbeda 4 tahun. Saya tau, ka syifa pasti sangat keberatan dengan istilah sempurna, tapi saya ngga kepikiran istilah lain untuk itu. Maaf ya, kak.
Kak Syifa mengajarkan hal-hal yang baik, dan juga kakak pernah bilang, kurang lebih kalimatnya begini, “Mentoring itu tidak memaksa, se-urgent apa dia harus dilaksanakan tergantung bagaimana seseorang memprioritaskannya.”

Yang jelas, sejak saat itulah saya merasa yang namanya mentoring itu penting. Saya mengevaluasi diri, ternyata bukan hanya bahan mentoringnya saja yang baik, tapi ia juga mengajarkan bagaimana kita membiasakan diri untuk bisa saling peduli terhadap sesama apapun latar belakangnya, melatih kepekaan diri terhadap perubahan, dan intinya adalah ukhuwah.

Setelah empat tahun ngga ketemu, saya mewajibkan diri untuk hadir di gedung resepsi itu. Dan disana ka syifa tersenyum, cantik sekali. :)

========

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s