Lively

“Semua cowok itu berengsek, rin. Jangan pernah kasih 100% kepercayaan lo sama cowok yang paling baik sekalipun.”

Sejauh ini, udah beberapa orang yang bilang itu ke saya, tanpa basa-basi. Saya ngga ngerti, kenapa saya yang diberi saran saat teman-teman saya yang putus cinta. *eits, jarang-jarang gini nurin ngomongin cinta.

Hari ini, dua teman saya bercerita, masing-masing di tempat yang berbeda, dan saya cuma bisa bilang begini pada keduanya:
“Kalo gue boleh ngutip pernyataan orang di fesbuk, ‘di balik setiap orang yang sukses, ada mantan yang menyesal.'”
Satu orang tersenyum, yang satu lagi terbahak-bahak.
Menyimpan dendam itu sama seperti memeluk erat kulit durian, atau menggenggam belati di bagiannya yang tajam, karena ujung-ujungnya yang dirasakan hanyalah sakit. Dan betul kata otty, kalaupun mau membalas, pembalasan paling kejam adalah mengabaikannya. Sayang sekali, ngga semua orang sanggup melakukan itu.

Wanita jatuh cinta. Pria jatuh cinta. Pacaran. Suatu hari masing-masing mengeluhkan pasangannya.
Trus saya jadi mikir, so what’s the point? kenapa lu mau sama orang kya gitu? Jawaban mereka, karena sayang. Karena sayang atau cuma karena tidak mau sendirian? Kalau karena sayang, bukankah seharusnya keluhan itu berwujud kasih sayang terhadap yang disayang? Bukan malah berwujud umbaran keburukan seseorang yang disebar ke orang lain.

Kebaikan seseorang akan selalu diingat, dan keburukan sahabat cukuplah menjadi rahasia pribadi. Apalagi kalo itu adalah sahabat hidup: istri atau suami sendiri.

Sulit, jika di hidup ini ada istilah pacar yang bisa seenak udel diganti-ganti. Nggak sehat. Saya sendiri walaupun pernah dekat dengan beberapa laki-laki (tapi bukan dalam rangka pacaran kok), saya akui after-effect-nya itu rasanya memang sakit sekali. Dan kesimpulan saya adalah pacaran itu nggak worthed. Pria itu seperti daratan, mudah panas dan mudah dingin. Dan wanita itu seperti laut, sulit sekali panas dan sulit sekali untuk dingin. Perbedaan itu bukan sesuatu yang buruk kok, hanya saja harus dikombinasikan di waktu yang tepat. Dan bukannya untuk mengeneralisasi sih, maaf jika ada pernyataan yang menyinggung, tapi sejauh pengamatan saya ya seperti itu.

Buat saya, mengenal seseorang itu ngga perlu melalui pacaran. Kejujuran itu terlihat dari setiap uluran tangan yang bergerak tanpa berpikir, terlihat dari kemana kaki-kakinya melangkah, dan bagaimana ia memperlakukan orangtua dan sahabat-sahabatnya.

Naif?
ng, mungkin karena itulah, saya diberi saran seperti kalimat yang saya cantumkan di awal postingan ini.
Selamat malam.

Ps.1
Tapi saya tidak setuju dengan saran itu. Papa & Kakek saya orang yang baik kok.

Ps.2
Kepada dua teman saya, pulihlah, kalian berhak untuk bahagia. Dan sekali lagi saya ajak, “Mari kita lestarikan terapi the art of turning off your cellphone.”

Ps.3
Jika kalian bertanya-tanya ada apa dengan saya kok tumben nulis beginian, jawabannya adalah tidak ada apa-apa, beneran.

Ps.4
Lively. Hiduplah dengan penuh kesyukuran, karena itu adalah pintu gerbang keoptimisan dan kasih sayang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s