Taman Kanak-kanak: Menikmati Musik, dan (tentu saja) Nonton Superhero

Saya ingat masa kecil ketika main layangan, jatuh ke got karena ngebut naik sepeda, dan juga kurang apiknya menjaga boneka berbi. Selain itu semua, ada beberapa hal yang tak kalah berkesannya, yaitu: CD player milik orangtua, dan juga acara superhero di televisi. Masa-masa ini, saya sangat western minded karena tinggal di sana. Musik-musik yang saya dengarkan pun ya koleksi CD artis-artis barat milik orangtua.

Acara Superhero:
1. Zordon dan Alpha

oke. dan power ranger merah.

2. VR Troopers (Virtual Reality Troopers)
“we are.. we are.. vee ar!
we are.. we are.. vee ar!
we are.. we are.. vee ar!
troopers of three go! virtual reality~
troopers of three go! virtual reality~
troopers of three go! virtual reality~”

Virtual reality, apa pulak itu. Tapi opening theme nya yang sangat ear-catching selalu sukses bikin saya pengen nonton. oh, ngga juga, istilah Virtual Reality itu aja udah ear-catching buat anak kecil seperti saya -walaupun ngga ngerti juga artinya apa.

3. Ghostbusters – Ray Parker Jr.

Dalam Compact Disc:
4. Bryan Adams – Have You Every Really Loved a Woman

5. Los del Rio – Macarena

6. ABBA – Dancing Queen
“You can daaance, you can jive, having the time of your life..
See that girl, watch that scene.. diggin’ the dancing queeeen!”

Masih di Nevada, apartemen kami. Lagu ini terus diputar dengan suara bass yang kencang, berulang-ulang. Saya lupa siapa yang menyalakan, yang jelas ketika irama dance itu muncul, saya dan seorang teman bernama Alivia melonjak-lonjak di depan CD player. Lip sing. Berjoget-joget. Dan kami berakting seolah-olah berada di atas panggung. Tentu saja ini dilakukan ketika orangtua saya sudah sibuk dengan urusannya masing-masing. Kemudian terjadilah, saat ruang tengah sudah kami kuasai, kami nikmati aksi kami yang “sok terkenal” dengan puas. Seingat saya, usia saya tak lebih dari 5 tahun, dan Alivia hanya lebih tua setahun atau 2.

“You are the dancing queeeen, young and sweet only seventeeeeen~
Dancing Queeeeen, feel the beat from the tambouriiiiine!”

Whooa, seventeen. Umur saya setengahnya aja belum.

7. Nike Ardilla – Panggung Sandiwara
Waktu itu saya sudah tinggal di Duren Sawit. Dan nonton video klip ini di umur 7 tahun adalah sebuah pengalaman yang sangat berkesan.
“Dunia ini, panggung sandiwara.”
Saya: Mbak, sandiwara itu apa sih?
Mbak: itu yang kya di video klipnya itu loh, drama, pura-pura di atas panggung
Saya: Kenapa dunia ini panggung sandiwara?
“Ceritanya mudah berubah.”
Saya: oh ya? maksudnya terserah kita mau kya gimana gitu ya?
“Ada peran wajar, dan ada peran berpura-pura”
Lirik lagunya mengundang sejuta pertanyaan bagi saya waktu itu. Sayangnya jawaban Mbak kurang memuaskan rasa penasaran saya. Selama beberapa saat, saya hanya ngoceh sendiri sampai akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu mengendap saja tanpa saya tanyakan pada orang lain.
“Mengapa kita bersandiwara?”
Selama berhari-hari saya tunggu acara musik yang sama, tapi lagu itu tak pernah diputar lagi. Tak lama, saya dengar ternyata penyanyinya sudah meninggal. Sayang sekali, padahal saya mau nanya banyak hal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s