Bincang Pagi

Jarum panjang jam tanganku menunjuk angka 2, artinya pagi itu (lagi-lagi) aku telat kuliah 10 menit. Sial. Terburu-burulah aku menuju gedung kuliah umum.
Di selasar gedung timur itu, dia berdiri tegap di sana. Seorang laki-laki tak kukenal. Menatapku lurus-lurus dengan wajah tanpa ekspresi. Kedua tangannya ia sembunyikan di dalam saku jaket. Jelas, aku sama sekali tak mengenal orang ini.
Ini.. manusia atau bukan?
Aku membalas matanya, ia bergeming. Aku lanjutkan langkah menuju tangga, dan lirikannya tetap mengikutiku. Sampai aku sudah berada di anak tangga ke-sekian, kulihat arah tubuhnya mengikutiku.
ah! masa bodoh dengannya! aku ini sedang terlambat masuk kuliah!
Tiba di lantai 2, kubuka pintu kelas yang biasa kumasuki tiap Jumat. Setelah tersenyum basa-basi pada penduduknya, kututup rapat pintu dari dalam.

Lima belas menit lamanya aku duduk tenang di dalam kelas itu, menyimak seorang adik kelas presentasi mengenai ini itu. Lima belas menit yang membosankan, dan tibalah saatnya aku menunaikan kewajiban, yaitu menyelinap keluar untuk sarapan. Sebentar saja.

Aku kembali ke selasar gedung timur. Dua buah donat kentang dan segelas susu kedelai siap kusantap di depan warung lantai 1. Iya, lantai 1 tempat aku bertemu orang aneh itu. Ah iya! itu orangnya!!
Lihatlah, setelah ia menyadari keberadaanku ia langsung menghampiri dan duduk satu meter jaraknya dari tempatku menikmati donat dan susu.

“Kak, jurusan meteo*rologi ya?”, tanyanya.
HAH?? wtf??
“Ng, iya.”
“LDFITB ya kak?”
“HAH? kok tau?”
“tadi pake jaket kan? ada tulisannya.”
“oh iya bener juga.”
“Oiya, kak. Bukannya lagi kuliah?”
“Oh hahahaha, ini sarapan dululah biar sehat. Kamu udah sarapan?”
“Udah kak.”
“Satu lagi, kok kamu tau saya meteo*rologi??”
“Tadi saya liat jadwal di depan ruang kelas yang kakak masukin, kodenya MExxx”
what? jadi dia ngikutin sampe masuk kelas??
“Kakak mirip senior saya angkatan 09 jurusan X”
pantesan. memang banyak yang bilang aku mirip seorang anak 09 jurusan X.
“Ooooh. iya iya..”
Kuperhatikan jaket yang dikenakannya. Tertulis S.T.E.I 11.

Percakapan berlanjut membahas banyak hal. Sampai akhirnya adikku yang mau masuk jurusan infor*matika ini bertanya, “Kalo kakak? pas lulus nanti mau jadi apa?”
“Fotografer”, jawabku singkat.
“foto… grafer?”, kedua alisnya beradu. Ekspresi yang sudah kunanti.
“yap!”
“kok.. jauh banget? bukannya kalo jadi fotografer itu ngga perlu masuk… sini? trus buat apa S1nya?” Entah sudah yang keberapa kalinya aku mendengar pertanyaan ini.
“Hahahaha! :))) memangnya ngga boleh ya saya menikmati ilmu pengetahuan di sini??”
“…”
“Saya percaya, ilmu apapun itu pasti ada manfaatnya. Kuliah ya kuliah. Kerja ya kerja. Setelah lulus kuliah ya terserah kita, bagaimana nanti kita bisa kreatif memanfaatkan apa yang kita miliki & bagaimana kita memperlakukan kesempatan-kesempatan yang ada. Yang mau kerja silakan, yang mau lanjut S2 silakan, yang mau bisnis silakan. Ujung-ujungnya, akan kembali ke rezeki masing-masing orang. Kalo bukan rezekinya, ya takkan jadi rezekinya.”
Kuucapkan itu dengan percaya diri. Tapi aku yakin, lawan bicaraku ini tak tahu bahwa di dalam dadaku ada secuil ketakutan akan ketidakpastian masa depan. Secuil yang.. aku sendiri tak tahu kemana arah berkembangnya, mengecilkah? membesarkah?

“Kak, saya mau berbisnis di bidang infor*matika..”
:)

Perbincangan pagi yang tak terduga. Membahas hal-hal yang sebelumnya tak pernah kukira akan kubagi pada orang yang baru kukenal beberapa menit. Perbincangan yang mengingatkan aku pada nikmatnya menikmati ilmu, dan tak seharusnya aku merasa bosan akan presentasi di kelas tadi.
“Kak, boleh add fb nya?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s