Aksia

Anak itu namanya Aksia, murid baru sekolah kecil ini. Aksia, entah benar atau tidak, tapi itulah yang kudengar dari anak yang berada di hadapanku ini.
“Asia?”
“AKSIA!”
“Aksia?”
“Iya!”

Pertama kali aku melihatnya, ia sibuk mendorong-dorong murid lain. Ia dorong seorang anak laki-laki, ia dorong pula seorang anak perempuan yang berada tak jauh dari situ. Mereka bertiga terjatuh di atas karpet mesjid kemudian bersama-sama mereka tertawa terbahak-bahak senang. Mereka lalu berdiri, diulanginya lagi kegiatan dorong-jatuh-tertawa itu. Seorang guru menyebut si pendorong dengan sebutan “nakal”, dan pada dua anak yang lain, “kok jadi nakal??”.

Kalau aku, yang kulihat adalah seorang anak laki-laki berumur 5 tahun yang cemburu buta. Ia cemburu pada kedekatan si anak laki-laki dan si anak perempuan. Ia dorong yang laki-laki dulu, baru nanti yang perempuan. Di lain waktu, ia ‘nyempil’ diantara kedua anak itu. Berkali-kali. Ia puas hanya dengan menjauhkan mereka berdua. Ia juga tertawa sambil melirik ke guru-guru, perbuatannya yang mencolok itu berhasil menjadi pusat perhatian. Ia cuma ingin diperhatikan. Ya, ada dua motif di situ.

“Yang nakal ngga dikasi kertas ya”, kata ibu guru. Ibu guru adalah orang yang penyayang, tapi mungkin ibu guru belum pernah menghadapi seorang anak yang tak tahu caranya mendapat perhatian tanpa berbuat onar. Atau mungkin juga karena ibu guru hanya ingin bersikap tegas.
Aku yang sok tahu ini sedang memangku Ipah. Kulihat si pembuat onar menundukkan kepalanya.
“Kamu kenapa? Kita hitung-hitung di kertas ini yuk..”
“Bu guru…” ketika ia menoleh ke arahku, raut wajahnya sedih.
Wajah yang khawatir. Tangannya rapat dilipat di dekat dadanya, pasif.
“Aku ngga dikasi kertas, bu..”
…kemana anak agresif tadi?

Ia antusias ketika kertas untuknya tiba. “Nama! Nama!”, katanya sambil menunjuk-nunjuk kolom untuk menuliskan nama di lembar kerja. Disitulah ia menyebut “Aksia” tapi enggan menuliskannya sendiri.
“Ayo sekarang kita tulis angka satu, dua, tiga, empat dan lima!”, ucapku pada Salman, Ipah, dan Aksia. “Titik-titiknya disambung ya!”
Aksia fokus menyambung titik-titik di kertasnya.
Terakhir, ia kebingungan ketika kuminta ia berterimakasih pada Ipah yang meminjamkannya sebatang pensil :)))

* * *

Hari ini Aksia tidak datang ke sekolah. Padahal aku ingin mengucapkan terimakasih karena ia membantuku mengerjakan take home test kuliah psikologiterapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s