Konsep

Sekarang ini sedang ngetren istilah Tuhan di dunia kita cuma ada satu, maksudnya semua agama sebenarnya menyembah Tuhan yang sama, cara beribadahnya saja yang berbeda. Bahkan di sebuah lirik lagu pop, ada yang menyebutkan, “Tuhan memang satu, kita yang tak sama.” Ada juga sebuah film independen yang mengangkat tema ini, dan ternyata sangat digemari terutama oleh pasangan-pasangan beda agama yang bersama atas nama cinta. Mari kita sebut konsep ini dengan istilah agama global.

“..aku bukan penyembah apa yang kamu sembah, dan aku tak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah yang aku sembah..”
(QS. Al-Kafirun: 3-5)

Beberapa waktu lalu saya buka kembali kumpulan ayat-ayat-Nya. Hal pertama yang menarik perhatian saya ketika membolak-balik halaman belakangnya adalah ayat itu. “…untukmu agamamu, dan untukku agamaku,” begitu lanjutannya. Dari situ saya cuma bisa bilang bahwa saya tidak setuju dengan konsep agama global. Bisa dibilang, ini harga mati.

Saya beragama Islam. Walaupun saya bukan beragama Global ataupun agama lain, saya tidak membencinya. Untuk urusan norma kehidupan (akhlak), saya yakin banyak yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, kasih sayang, dsb. Tapi untuk urusan kepercayaan yang paling dasar (aqidah), ayat yang saya sebutkan sebelumnya adalah jawabannya :)

Mungkin banyak yang berpendapat bahwa anggapan ini kuno: ‘Yang disembah di agama X’ itu berbeda dengan ‘Yang disembah di agama Y’. Terserahlah jika anggapan itu disebut kuno, tapi suatu konsep tetaplah sebuah konsep. Kapanpun tercetusnya, menurut saya cara seseorang menyikapinya tidak ada kaitannya dengan waktu. Yang membuatnya berbeda adalah bagaimana seseorang merespon sesuai pengetahuan yang dimilikinya, apakah konsep itu nantinya ditinggalkan, dicemooh, atau diikuti. Disinilah kewajiban kita sebagai seorang individu untuk terus mencari tahu banyak hal. Bukannya menghakimi mentah-mentah atas apa yang dilakukan orang lain.

Oke, ini jadi nyambung ke efpe-i. Haha. Buat teman-teman yang muslim, sebelum ‘memaki-maki’ efpe-i, kita coba cari yuk Islam itu sebenarnya seperti apa. Karena, kalo kita ngejelekin-jelekin mereka tanpa dasar yang jelas (apalagi kalo cuma berdasarkan berita di media atau omongan orang) memaki itu gampang, tapi.. jadi apa bedanya kita dan mereka?

Mungkin Al-Qur’an yang berdebu di rak buku itu merindukanmu.

Ps.
Anyway, fyi, saya ngga nyembah cinta.
Tapi saya suka dengerin Lady Gaga.

Advertisements