Rasa (-1)

Kawan, kau bilang kau sedih. kecewa. benci. menyesal. Diantara kata-kata itu kau selipkan kalimat ‘mungkin juga cemburu’. Satu hal yang sebenarnya belum kau ketahui, yaitu rasa yang sedang menguasaimu: rasa marah. Marah pada dirimu sendiri.
Kalimat-kalimatmu membuat aku melihat diriku yang beberapa waktu lalu. Bedanya, kalimatmu mengalir di layar chatting, sedangkan kalimatku berkeliaran liar di urat dalam kepalaku. Nyakitin. Oh, untukku, perlu kutambahkan rasa jijik. Aku benci merasa lemah. Maka aku marah. Merasa lemah itulah yang membuatku jijik pada diriku sendiri. Ah tapi apalah aku, kita, manusia.

Jadi, kuketikkan kalimat yang dulu pernah kuharapkan singgah dari orang lain untuk masalah seperti ini, “Everything’s gonna be alright, take your time.”

Marahlah. Capeklah. Kemudian tidur.
Esoknya, rasakan angin dari jendela lab lantai 1.
Rasakan benar-benar.
And everything’s gonna be alright.

***

Nama ayahnya Sosroningrat, tapi apa kau tahu siapa yang melahirkan Kartini? Namanya Ngasirah, anak dari mandor pabrik gula. Jarang sekali disebut-sebut dalam sejarah. Di surat-surat Kartini pun, yang terlihat cuma ada rasa sayang Kartini pada Ayahnya. Pernahkah kau membayangkan perasaan sang ibunda? Kira-kira bagaimana perasaannya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s