Alam

Pembaca, apa kau pernah mengalami hal traumatis?

trau.ma
[n] (1) keadaan jiwa atau tingkah laku yg tidak normal sbg akibat dr tekanan jiwa atau cedera jasmani; (2) luka berat

Dalam hal ini, yang saya maksud bukan dalam konteks cedera jasmani ya, melainkan akibat dari perilaku orang tertentu. Ketika kau melihat orang itu kau mendadak mual dan pusing. Bahkan menerima pesan singkat dari orang itupun kau merasakan takut yang berlebihan. Ada sebuah hal yang tak sudi kau ingat kembali.

Jadi, apakah saya akan membahas cara mengobati trauma? Oh tidak sama sekali. Saya tidak tahu-menahu cara mengobati trauma. Saya bukan psikolog, bukan pula dokter. Tapi saya akan berbagi tentang salah satu cara untuk mengkonsentrasikan pikiran pada hal lain. Tak ada kaitannya secara langsung dengan trauma memang, tapi daripada menghabiskan waktu untuk membenci, rasanya akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk menyayangi.

Temuilah anak-anak. Mereka bisa membaca jiwamu. Kalau tak kau buka jiwamu, mereka takkan menghiraukanmu. Kau tak perlu atraktif yang berlebihan. Kadang, tersenyum dan mengulurkan tangan sudah cukup untuk membuat mereka betah di sebelahmu. Bertanyalah mengenai gambar yang mereka buat, biarkan mereka bercerita, dan lihatlah dunia dari sudut pandangnya. Dengarkan, dan support.
Saya punya seorang sahabat, suatu hari ia sedang terluka hatinya dan perlu semangat juga dukungan. Sahabat saya ini orangnya tak betah berdekatan lama-lama dengan anak kecil. Tapi setelah pertama kali saya ajak ke sekolah –jadi guru bagi bocah-bocah yang doyan berlarian, ia sekarang sering datang tanpa saya ajak. Sahabat saya ini bilang, “Bisa lo bayangin, gimana orang yang butuh support jadi bisa mendukung orang lain.” :) Mungkin begitu ya cara kerja dunia ini, kita bisa saja memberikan sesuatu yang kita butuhkan. Hebat sekali :)

Ngomong-ngomong sekolah, saya belum lama di sekolah kecil itu. Sebulan lebih sedikit barangkali. Jadi guru di sana melatih sebuah sisi dari saya yang tidak pernah saya asah, yaitu jadi logistik. Hahaha, ya jujur saja, seumur-umur, seingat saya, saya belum pernah jadi logistik. Sebelum hari ini, saya bahkan tidak tahu dimana saya bisa menyewa proyektor selain di tata usaha prodi. Sebelum dua minggu lalu, saya tidak pernah jadi pimpro pembuatan kendaraan-kendaraan karton yang nantinya kendaraan-kendaraan itu akan dibuat tak berbentuk oleh anak-anak yang doyan berlarian itu, hihi.

Ada satu lagi mungkin yang menunggu saya, yaitu jadi pembawa acara. Bekerja sama dengan manusia usia 20an pastinya sudah biasa untuk mahasiswa, tapi jika yang dihadapi adalah 30 anak usia 2-5 tahun, itu adalah tantangan lain.

Apa nanti saya akan diingat sebagaimana saya mengingat ibu guru – ibu guru taman kanak-kanak saya? :)

Kembali ke bahasan trauma. Rasa traumatis mungkin salah satu wujud kejujuran alam bawah sadar. Dan cara seseorang berhadapan dengan anak kecil juga merupakan salah satu wujud kejujuran itu. Lihat? Alamnya sama, tapi konsentrasinya bisa disesuaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s