Panduan Membeli Kamera

Tulisan ini ditujukan untuk orang yang ingin beli kamera, dengan budget tertentu. Jadi, jika anda tidak menetapkan budget maksimal untuk kamera, pembahasannya bukan disini :3

Untuk urusan kamera-perkameraan, saya termasuk salah satu yang menganut kepercayaan “It’s not the gun. It’s the man behind the gun.” Artinya (ini definisi menurut saya ya) seseorang dapat memanfaatkan ilmu & feel fotografi yang dimilikinya untuk menghasilkan karya fotografi yang ia inginkan menggunakan alat yang bisa ia manfaatkan. ‘Alat yang bisa ia manfaatkan’ itu termasuk kamera sederhana (biasa disebut pocket camera karena tubuhnya yang kecil), kamera pinhole, toycam, SLT, DSLR merk ABC, DSLR merk Indomie, DSLR merk Rexona, bahkan kamera handphone. Dan setiap orang tidak diharuskan bisa semuanya untuk menghasilkan gambar yang diinginkan bukan?

Jadi, pertanyaan yang harus dijawab pertama adalah…..
“Ingin motret apa?”

Oke, untuk sebagian orang, pertanyaan ini sangat membingungkan. Kita seringkali bingung sendiri kalau ditanya, “Maunya apa?”. Jawabnya cuma ada 2 kemungkinan, “Ngga tau”, dan “Apa aja pokoknya yang penting hasilnya bagus.” Kadang disertai dengan, “gue kan ngga jago kamera, jadi kamera apa ya yang oke supaya hasilnya bagus?”

Sebenarnya, sadar-ngga-sadar, ini bukti bahwa beberapa orang-orang di luar sana meragukan kepercayaan “It’s not the gun. It’s the man behind the gun.” Terutama orang-orang yang ingin punya kamera tapi bingung beli yang mana. Pengen hasil fotonya bagus, tapi enggan belajar fotografi. Pokoknya dia percaya bahwa jika memakai gadget yang mahal, pasti bisa menangkap gambar yang bagus. Jadi, ada yang perlu diluruskan disini:

1. It’s not the camera who capture the photograph, it’s the man.
Sekali lagi, orangnya.
Kamera DSLR diciptakan dengan beberapa mode memotret. Yang paling umum adalah Manual, Aperture Priority, Shutter Priority, dan Full Automatic. Jika menggunakan mode Full Automatic, kamera DSLR kita tidak ada bedanya dengan kamera pocket biasa (dari segi teknik pengambilan foto karena kendali sang fotografer hanya terbatas pada komposisi foto). Yang membuat DSLR berbeda dengan kamera pocket adalah adanya fitur Manual pada DSLR. Dibutuhkan sedikit ilmu pengetahuan untuk bisa memahami settingan-settingan di mode Manual tersebut.
Dari pernyataan saya yang terakhir, mungkin jadi muncul pertanyaan, “Untuk apa kita memahami settingan Manual jika kamera yang mutakhir itu sudah bisa menyetting dirinya sendiri untuk memotret dengan mode Auto?”
Kalau begitu, izinkan saya bertanya, “Sejauh apa anda pasrah menghadapi kamera anda?” Pada beberapa keadaan menggunakan mode Auto, kamera kita yang cerdas itu kadang tak bisa memahami keinginan kita. Kita menginginkan gambar yang agak redup-romantis, tapi si Auto memberikan gambar yang terang-benderang-gonjreng. Kita ngga mau pake flash, tapi si kamera kekeuh maksa kita untuk pake flash (dengan otomatis mengeluarkan flashnya), kalo kita ngga nurut, si kamera malah memberikan gambar yang agak ‘goyang’ –tidak enak dilihat.
Nah, inilah yang saya maksud dengan it’s the man. Kitalah sebagai manusia (a.k.a. mandornya kamera) yang akan menentukan suatu foto itu bagus atau tidak, bagaimana kita mengatur segala hal yang bisa diatur sesuai dengan keinginkan kita, entah itu settingan kamera, feel dan kepekaan fotografer terhadap momen dan cahaya, ide, penangkapan momen yang dramatis, penciptaan suasana, dll.
Intinya, kamera mahal belum tentu menghasilkan gambar yang orang-orang bilang bagus, karena ada faktor manusia di dalamnya.

2. Belajar fotografi atau tidak itu pilihan yang merupakan hak setiap orang.
Tidak ada yang salah atau benar di poin nomor dua ini. Terlalu sibuk sehingga tidak memungkinkan untuk belajar? It’s oke. Yang ada adalah.. sayang duitnya, dan komentar ‘repot ya bawa-bawa kamera DSLR yang berat’.

Jadi gimana dong?

Saran saya (untuk dua contoh ekstrem berikut):

– Kalo emang pengen banget punya DSLR, luangkanlah waktu untuk mau belajar mode Manual. InsyaAllah ilmunya akan berguna kok walaupun di beberapa situasi kita sesekali menggunakan mode semi-manual ataupun mode auto.
Kenapa mode Manual? Selain dari alasan yang saya sebutkan di poin 1, yaitu karena dari segi bentuk kamera, DSLR itu sama sekali tidak praktis untuk dibawa. Berat. Apalagi kalo pake lensa sapu jagad 18-200mm mode auto cuma buat motret pacar di mall. -_-;;; krikrikrik…
Well, ini bukannya saya Manual-mode-minded ya. Tapi lebih karena ini merupakan sebuah ajakan untuk memanfaatkan teknologi –jika bukan mari jangan buang-buang duit untuk sesuatu yang tidak kita pakai. Hiahahaha.

Pengen kamera untuk dibawa travelling. Ngga mau ada urusan sama setting-settingan. Pokoknya gua cuma pengen mengabadikan pemandangan mahadahsyat yang akan gua datengin! Duit mending gua pake buat travelling atau beli motor daripada beli kamera mahal. Pilihlah kamera pocket. Eits! jangan underestimate dulu, kamera pocket jaman sekarang udah keren. Wide screen, resolusi gambar yang tinggi, berkali-kali optical zoom, bentuknya yang kecil dan ergonomis membuatnya praktis untuk dibawa kemana-mana, bahkan beberapa kamera pocket ada yang bisa semi-manual!
Yah, kecuali kalo memang anda tergiur dengan lensa wide untuk landscape maupun skyscape (seperti seorang saya akhir-akhir ini. #curhat), dan ngga nemu kamera pocket yang berlensa wide, silakan beli DSLR.

Kesimpulannya, jika anda menetapkan budget untuk membeli kamera, cerdaslah dalam memilih dan menganalisis kebutuhan diri anda terhadap kamera. Karena andalah yang paling mengerti diri anda, bukan saya, bukan pula emang-emang toko kamera.

Salam kepret.
iya, kepret.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s