Aku merasa seperti seseorang yang mengkhianati kekasihnya

Sore tadi aku shalat Ashar. Dan setelah salam, seperti biasa, aku menengadahkan tangan, berdoa, doa yang biasa kuucapkan setelah shalat-shalatku yang lain, “Bantu aku menghadapi cobaan-cobaan dari-Mu. Tolong. Aku mohon. Karena hanya dari-Mu-lah segala kekuatan. Segala kecenderungan hati ini Engkau yang mengarahkan, maka tolonglah jaga hati ini untuk tetap peka terhadap tanda-tanda yang Engkau berikan.”

Amin.

Satu persatu kulepaskan mukena. Tetapi masih kulanjutkan duduk diatas sajadah di mushalla himpunan. Setengah melamun, aku teringat sesuatu: pancake. Aku ingin sekali makan pancake cokelat. Biasanya aku selalu mengikuti apa yang aku inginkan. Kenapa? karena aku jarang sekali ‘mengidam’ sesuatu. Jadi jika aku ‘ngidam’, maka langsung aku cari sendiri tanpa pertimbangan apapun. Misalnya, aku ingin kerak telor, maka aku jalan sendiri ke gerbang depan kampus nyari kerak telor. Aku ingin es alpukat di ganyang, maka aku ke ganyang. Aku mau nasi goreng sea food, maka aku cari nasi goreng sea food.
Tapi kali ini berbeda, dua bulan terakhir ada beberapa keperluan sehingga membuat suasana dompet tidak mendukung. Yah bisa dibilang pas-pasan sekali untuk bisa sampai akhir bulan. Tapi aku ingin sekali makan pancake cokelat. Jadi? Beli? Tidak beli? Akhirnya pun kuurungkan niat membeli pancake di kafe dekat himpunan. Buatku ini keputusan yang cukup berat (aku harus bisa mengendalikan keinginan-keinginan ini), walau demikian, tenang saja, bulan depan masih bisa, dia takkan kemana-mana. Toh aku masih bisa hidup tanpa itu. Aku bisa hidup tanpa itu.

Jadi aku pergi ke lab. Ngapain? Tidak ada alasan khusus. Yang penting aku tidak memikirkan pancake. Di lab, kami heboh mengomentari poster-poster tugas akhir beberapa orang yang baru saja menyelesaikan sidangnya. Yang ini bagus, tapi kebanyakan tulisan. Yang itu gambarnya kurang besar. Yang sebelah sana oke. Yang sebelah sini kurang rame. Dan sebagainya. Ternyata ada seorang teman yang belum menyelesaikan posternya, “Rin, bantuin aku dong. Plis plis siniii.”
“Siaaaap!”
Aku bantu seadanya, memberi saran-saran, kami mengerjakan bersama. “Plis rin jangan pulang duluuu.”
“Aku ngga pulang kok, Git. Lagian kenapa kamu pikir aku mau pulang?”
“Itu kamu ngeliatin henpon terus, pasti nanti kamu bilang, ‘eh git aku ada janji sama temen’ trus kamu pergi.”
Aku terbahak-bahak. Padahal aku melihat henpon untuk mengecek mention instgrm dari adik sepupuku. Aku belum berniat pulang. Apalagi temanku yang jenius ini sangat berjasa dalam per-akademik-an-ku di kampus.
“Ini aku temenin koook, tenang aja.”
“Riiin jangan pulang dulu riiin. Aku traktir deh, serius ini, kamu mau apa?”

……
“Aku… aku mau pancake cokelat coftof.”

Maka, yang terjadi, terjadilah. Aku ditraktir pancake cokelat /(._.)\

Keluhan kecil dalam hatiku setelah shalat itu ditanggapi Allah. Sering sekali terjadi hal-hal seperti ini. Sering. Aku tak sanggup menghitungnya. Dan biasanya setelah sesuatu-ku dikabulkan Allah, aku selalu mendadak ingin menangis. Antara takjub dan ingin berteriak-teriak, “Subhanallah!!”
Tak hanya hal-hal yang baik. Biasanyapun jika aku melakukan sesuatu yang buruk, tak lama kemudian aku ‘ditegur’. Bentuknya macam-macam, mulai dari munculnya hambatan-hambatan dalam mengerjakan kegiatan sampai tiba-tiba ketiban motor sehingga pergelangan kaki kiriku bengkak (ini terjadi sekitar dua minggu yang lalu).

Jadi, sebenarnya aku takut sekali jika Ia marah. Apapun bisa terjadi.

Bayangkan kau punya Kekasih yang selalu menyayangimu, memberikan kenyamanan dan mengingatkan ketika kau berbuat salah. Tapi kau malah ‘main belakang’. Masih sering shalat di akhir waktu, bangun kesiangan sehingga telat subuh, bahkan jarang tilawah. Padahal Ia tahu. Kau pun tahu bahwa Ia tahu. Kau itulah aku, seseorang yang lalai.

Ia adalah Dzat yang kutakuti, disaat yang bersamaan Ia adalah yang Terkasih. Dan aku sering sekali mengkhianati Kekasihku. Walaupun demikian, Ia tetap menyayangiku.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
– QS. Ar-Rahman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s