Salah satu cerita.

Saya tidak ‘peka’ terhadap makhluk halus. Alhamdulillah melihatnya secara langsung tidak pernah. Dan saya pikir saya tak perlu melihatnya untuk percaya bahwa mereka ada dan hidup bersama dengan kita, manusia.

Kenapa? Karena saya punya sebuah kebiasaan yang tak bisa saya kendalikan, yaitu mimpi mengenai ‘mereka’. Jika saya bermalam selama beberapa hari di sebuah tempat baru, terkadang saya bermimpi bahwa ada ‘sesuatu’ di tempat itu. Biasanya jika bermimpi tentang ‘mereka’, bentuk mimpi saya adalah narasi. Saya adalah pihak ketiga yang ‘diajak’ jalan-jalan oleh sang narator dan ia bercerita mengenai ‘apa yang ada’ di tempat itu. Pihak pertama dan kedua tidak menyadari keberadaan saya dan juga sang narator. Jadi, seakan-akan saya adalah roh gentayangan yang melihat makhluk halus dan manusia hidup berdampingan, sedangkan mereka tidak ada yang bisa melihat saya. Siapa naratornya? Saya pun tak tahu. Yang saya alami dalam mimpi-mimpi saya hanyalah mendengar suara beliau dan melihat ruangan-ruangan beserta ‘isinya’. Kalau boleh saya menebak, mungkin beliau adalah seorang kakek-kakek yang tua sekali, walaupun demikian ada energi di setiap tutur kalimatnya.

Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika di Bali. Saya dan 2 orang teman tinggal di sebuah mess kantor selama sebulan.

Malam ke-3 saya bermimpi. Di mess kami ini sebenarnya ‘ramai’. Cukup lengkap, dari yang k, t, p, sampai lain-lain yang tak kutahu istilahnya. Di mimpi, aku begitu tenang melihat ‘semua’ melakukan aktivitasnya masing-masing. Kemudian sang narator berkata, “Lihat ini..”
Ada makhluk. Kulitnya pucat putih kebiruan, bersisik. Kukunya panjang-panjang, hitam. Rambutnya hitam panjang kasar kusut seperti ijuk. Ia memakai kain putih (agak biru, agak hijau, atau agak kuning?? aku sedikit lupa). Kainnya panjang menutupi seluruh badannya kecuali tangan. Dan ia memakai topeng. Sekilas kulihat sedikit sesuatu di balik topengnya, dan yang kulihat membuatku menundukkan kepala karena jelas bukan sesuatu yang indah, seperti gumpalan-gumpalan daging cincang, hitam.
Matanya seperti kucing, dan liar melirak-lirik sana-sini.
“Makhluk inilah yang paling …… disini.”
“Yang seperti ini banyak di sini?”, tanyaku.
“Banyak sekali!”

Makhluk itu loncat kesana kemari, sangat cepat dan begitulah cara ia berpindah tempat kalau bukan terbang. Dan perasaanku mengatakan bahwa ‘rumah’ makhluk ini ada di sebelah kamar kami.

Aku selalu menganggap mimpi adalah bunga tidur. Seperti, sayur ya harus pake garam, dan sebuah panggung tentulah harus ada artisnya. Jadi, apa yang kualami di mimpi tak perlu pusing-pusing kupikirkan harus ada hubungannya dengan dunia nyata, karena memang sudah sepatutnya di setiap tidur dan mimpi itu ada bunga, garam dan artisnya!

Beberapa hari setelah kubermimpi mengenai makhluk misterius bertopeng, kiasanku tentang mimpi agak retak. Sepertinya memang ada ‘lorong semu’ yang menghubungkan antara alam mimpi dan dunia nyata. Ini semua gara-gara sebuah lukisan di ujung lorong mess kami.
Aku tak mengerti apa yang ingin disampaikan oleh si pelukis, tapi yang kulihat di dalam lukisannya adalah pemandangan sebuah upacara di jalan-jalan Bali, beserta.. banyak.. makhluk putih bertopeng, yang kulihat di mimpi beberapa malam sebelumnya. Aku mulai menaruh curiga.

“Nad, lo pernah liat lukisan di ujung lorong mess ngga?”
“Kenapa itu lukisannya?”
Kuceritakan mimpiku dengan detail. Temanku tiba-tiba terlihat tidak nyaman dan kemudian berkata, “Nurin, itu leak, makhluk halus khas Bali.”
Oh. Jadi itu namanya leak. Sebelumnya aku tak pernah punya ketertarikan untuk mencari tahu apa itu leak. Seperti apa rupanya pun aku tak tahu, tapi beberapa hari yang lalu makhluk itu muncul di mimpi.
Dan kemudian gantian, giliran temanku ini yang bercerita tentang mess yang kami inapi. Dari yang ia dengar dari penjaga mess, kamar di sebelah kamar kami… memang ‘sarangnya’ leak.

Aku tidak pasti selalu mengalami mimpi. Sejauh ini cuma 4 kali. Mungkin ada hubungannya dengan ‘yang diturunkan pasti diwariskan’, seperti papa yang juga kadang mengalami ‘mimpi’, atau mungkin juga tidak ada hubungannya sama sekali.

Advertisements

5 thoughts on “Salah satu cerita.

  1. Yuslia Anggraeni says:

    mimpi begitu kamu tenang-tenang aja rind???

    L U A R B I A S A !!!

    *kalo aku ga mungkin, setidaknya mau keluar kamar ajah pasti mikir berkali-kali kalo malam
    (masih takut hantu belum jadi orang sains).

      • Yuslia Anggraeni says:

        Iya sih, logis logis gitu ya mikirnya.

        katanya memang sebetulnya ada, cuman itu makhluk2 ada pada frekwensi yang berbeda dengan kita (mereun bahasa sciencenya adalah “dimensi”nya berbeda).

        kalo kata temenku dulu di BPPT, katanya kalo mau, kita juga sebetulnya bisa ter”koneksi” satu dengan lainnya dengan memanfaatkan gelombang.

        bla bla bla lieuuuur…

        *Salam buat Pa Tri ya, kemarin aku sudah kontak gita, ada “sesuatu” yang pengen aku tau.

        thanks darla. Semangaaaat!!! :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s