Makian

Entah sejak kapan saya tak lagi menyengajakan diri menonton televisi, terutama yang lokal. Kalaupun sengaja, yang saya cari adalah acara memasak Bara dan film yang menarik di tivi kabel. Bahkan sampai Ramadhan hari ke-sekian ini saya belum pernah nonton acara sahur maupun acara berbuka. Satu-satunya dari televisi yang menyemangati sahur adalah ingatan kanak-kanak saya tentang iklan rokok yang dulu sering diputar, “Djarum djaruuuumm.. tujuh enaaaaam..” begitu bunyinya.

Untuk beberapa hal, orang memaki karena emosi dan benci. Untuk beberapa hal lainnya, orang memaki untuk sebuah kepuasan. Latar belakangnya adalah fakta; dan opini yang dibuat kabur agar terindera sebagai fakta. Orang-orang percaya adanya konspirasi, tapi untuk hal-hal terkait suku, antar golongan, ras, dan agama mereka hanya ingin mempercayai apa yang ingin mereka yakini. Termasuk mereka penganut agama universal bahkan mereka yang mengaku tak ber-Tuhan. Otak mereka berada di kotaknya masing-masing. Di era banjir informasi seperti ini, pihak mana yang layak dipercaya? Saya bahkan tidak percaya terhadap televisi saya sendiri karena di dalamnya adalah berita bohongan yang dikemas dengan kebohongan yang lain. Melucuti hati dan membuat orang percaya dengan apa yang mereka tampilkan di layar, agar orang saling memaki satu dengan lainnya. Terombang-ambinglah orang yang percaya dengan berita yang mereka simak. CURIGA, pasanglah itu di depan pintumu.

Kebanyakan muslim tidak mencerminkan Islam. Tidak shalat, merusak tempat ibadah agama lain, menghardik, curang dalam berdagang, tidak adil dalam memimpin. Padahal tak satupun itu dicontohkan Rasulullah. Tapi dunia menghakimi Islam. Bukankah itu patut dicurigai? Siapa yang bermaksud memunculkan kobar api kebencian terhadap Islam?

Advertisements