Pontianak :)

“Karena kita orang melayu, di akhir ceramah terawih ini, saya akan membacakan sebuah pantun..”
Hehe, saking ‘terpana’nya saya dengan kalimat itu, saya bahkan tidak begitu ingat bagaimana bunyi pantunnya.
Jadi ini ya rasanya mudik :)

Di jakarta, saya tak pernah merasa ‘diklaim’ suku tertentu. ‘Kebudayaan’ yang saya rasakan sebatas permainan tradisional dan lagu daerah yang diajarkan di sekolah dasar. Bahasa pun bahasa Indonesia, tanpa aksen apapun. Oh! apakah sinetron Si Doel Anak Sekolahan boleh dihitung sebagai ekspresi kebudayaan betawi? Entahlah, pokoknya selama sekolah, menurut saya semua orang terlihat dan terdengar sama.

Pertama kali saya ‘ngeh’ dengan warna-warni suku di Indonesia adalah ketika kuliah. Di semester pertama, saya sering duduk di bagian depan kelas. Pada suatu ketika, saya mendengar beberapa mahasiswa yang duduk di belakang saya mengobrol dengan logat tertentu. Bukan betawi. Ketika saya mengintip dari balik bahu, ternyata yang mengobrol adalah teman-teman dari Riau. Hmm, tahukah kenapa ini mengganggu saya? Karena saya familiar dengan logat ini tapi saya tidak ingat dimana saya sering mendengarnya.
Beberapa hari kemudian, setelah mendengarkan dengan seksama dan terus mengingat-ingat, akhirnya saya tahu: saya sering mendengar logat ini di RUMAH. Barulah saya tahu bahwa itulah ‘melayu’ yang sering disebut-sebut (alm) kakek. Logat itu tak begitu saja ada di rumah, tapi dibawa dari daerah yang bahasa sehari-harinya seperti itu. Melayu di Pontianak sebenarnya adalah pendatang dari Riau. Jadi, ya, kurang lebihnya sama.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s