Thoughts of The Day

Sempurna yang diberikan oleh Tuhan, tidak butuh parameter. You can just feel it. The Perfection :)”

Ada sebuah kebahagiaan tersendiri jika orang-orang bisa mengenali sesuatu yang khas dari dirimu padahal kau sendiri tidak sadar kepribadianmu itu muncul di setiap karya atau gerakanmu. Misalnya, codingannya si A pasti strukturnya seperti ini, atau catatan kuliahnya si B pasti seperti itu. Buah karya seseorang seakan-akan adalah tandatangannya, their signature, their brand. Branding yang saya maksud di sini adalah the unconsciously personal preference.

Branding terjadi pada semua orang, termasuk saya dalam hal mendisain dan memotret. Misalnya setelah melihat sebuah poster yang saya buat, seorang sahabat sering berkata, “tuh kan, pasti keliatan deh yang mana buatan nurin..” Desain grafis adalah suatu bentuk komunikasi visual yang menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan seefektif mungkin*. Dan saya sangat menyenangi bidang ini. Banyak yang bilang bahwa hasil disain saya bagus. Padahal sebenarnya saya lebih senang mengonsep, bermain dengan ide-ide, mengucapkan hal-hal yang mustahil, dan melompat dari satu keajaiban ke keajaiban berikutnya. Dalam hal eksekusi, jujur saja saya bukan ahlinya. Saya konseptor, tapi bukan ilustrator. I suck at drawing, mungkin itu sebabnya sampai sekarang saya ngga suka pake corel.

Di bidang fotografi, banyak juga yang berkata bahwa hasil saya memotret bagus-bagus. Misalnya, setelah melihat sebuah rangkaian dokumentasi, seorang sahabat pernah berkata, “foto-fotonya nurin pisaaan.” Tapi di balik itu semua, tak ada yang tahu bahwa saya punya kelainan penglihatan. Minus mata saya memang tinggi, 8.75, tapi bukan itu yang saya maksud. Saya sulit membedakan garis yang miring dan garis yang lurus ketika membidik di kamera. Entah karena saya bermasalah dengan keseimbangan atau memang silindris saya yang juga tinggi. Hal ini baru saya sadari beberapa bulan lalu ketika di hongkong. Saya heran, kenapa hasil fotonya berbeda dengan yang saya lihat ketika membidik. Saya mencoba di kamera lain, kesimpulannya tetap sama: Yang saya lihat lurus, ternyata sebenarnya miring. Terutama di malam hari. Hal ini sempat membuat saya sangat kaget sendiri, kaget dan sedih, sampai-sampai untuk beberapa hari saya tidak bawa kamera. Tapi, miring atau bisa tidak miring, akhirnya semua saya serahkan pada feeling. Itu saja andalan saya. Jika kalian perhatikan foto-foto portrait saya dengan seksama, kalian bisa menyadari bahwa foto-foto tersebut punya sedikit derajat ‘kemiringan’ yang sama semua (kecuali yang memang saya sengajakan miring). Begitu pula memotret ekspresi orang, semua tak lepas dari feeling, yaitu ekspektasi saya terhadap ekspresi apa yang kira-kira akan muncul selanjutnya? kapan munculnya? semuanya saya serahkan pada feeling, tak ada penjelasan teknis untuk masalah fotografi dokumentasi. Masalah apapun itu pokoknya bukanlah masalah jika kita anggap sebagai bukan masalah. Problem is a joke.

Begitulah.
Jika istilah sempurna saya sandarkan pada parameter yang ditetapkan manusia, semua yang saya miliki tak akan pernah sempurna dan pasti saya tak akan pernah puas terhadap materi. Tapi Allah tak butuh parameter itu untuk membuat kita bersyukur terhadap apa yang sudah kita miliki :)

Apapun yang diberikan Allah itu sudah sempurna…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s