Pagi, Siang, Malam, dan Langit-langit

Kepada sebuah senyum di parkiran,

Pada bulan ini, 5 orang yang kukagumi menyempurnakan agamanya.
1. Pelangi
Pagi itu langit masih gelap. Di Cihanjuang, ia yang sedang dipakaikan bulumata terlihat panik. “Sekarang lagi dipakein apa? Kalo yang ini buat apa? Ngga-ngga, ngga mau ada pink-pink. Tolong ambilin susu cokelatnya ya. Aduh anduk kecilnya dimana ya, jangan-jangan lagi dicuci. Wah, matanya merah. Eh udah ngga merah. Aaaaaah ngga-ngga, aku ngga kya alieeen!” Dibalik celotehan-celotehannya yang lucu, sebenarnya aku merasakan adanya ketenangan :) ah mungkin juga sebuah keantusiasan yang diam-diam? Hihi, entahlah..
Bapak beredar di dalam rumah, sesekali menjenguk kamar rias pengantin wanita. Tersenyum sebentar, barangkali hanya sepersekian detik, kemudian menyembunyikannya kembali.
Ibu menyuapi kakak yang sedang dipakaikan jilbab. Beliau memastikan seisi rumah sudah makan. Tak banyak yang dibahas lagi sebenarnya oleh ibu, mungkinkah itu cerminan dari cemas, haru, dan semua hal yang tak terdefinisikan?
“Pagar ayu nya udah siap semua belum, nurin?”
“Belum, tadi aku liat baru Rahma yg di-makeup. Dian & Rahmi belum. Jilbab mereka juga belum.”
Padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah 7, artinya waktu yang tersisa untuk bersiap-siap tinggal 30 menit.
Kemudian kami semua tergesa dan tersenyum..
Pukul delapan pagi, kusaksikan sebuah upacara di KPAD. Inilah pengalaman luar biasa, bisa memotret momen luar biasa dengan dua pemeran utama yang luar biasa pula: sang komandan dan rumahnya yang hangat :)
Akadnya indah.. sungguh, jika boleh, akan kuistilahkan dengan ‘magical moment’.. Karena ketika aku melihat keduanya dalam bidikanku, seakan-akan aku juga melihat pelangi di langit-langit ruangan :’) Indah sekali..

2. Dahlia
Bunga dahlia memiliki kelopak mahkota yang banyak. Dan pada kebanyakan, ujung kelopaknya runcing. Warnanya bermacam-macam dan bentuk bulatnya pun bermacam-macam. Ada yang seperti telur dadar, tengahnya berwarna kuning cantik. Ada pula yang mirip mawar, ia merekah gagah dengan anggun. Sebut saja teh kiki, teh dhede, teh isan, dan teh zahra. Keempat teteh ini kukenal dengan sosoknya yang super seperti dahlia. Segudang wawasan, beropini tajam, tapi bisa membungkus semuanya dengan karakter yang masing-masing berbeda. Ada yang mengebu-gebu, ada yang happy-go-lucky, ada pula yang keibuan. Ah, lihat.. di bulan november ini, keempat dahlia berwarna fuschia :’)

***

Dan kepada sebuah senyum di parkiran,

Sepertinya memang ada yang harus kuubah. Bukan karena orang lain berubah, tapi karena keoptimisan seringkali disalahgunakan orang lain. Busuknya dunia tak hanya di birokrasi, tapi juga ada di tempat-tempat terdekat yang tak kita sadari.

***

Dan kepada sebuah senyum di parkiran,

Aku mudah sekali menangis.
Siang itu kami mengunjungi teteh kami. Namun tidak seperti biasanya, pertemuan kami bukan di kontrakan beliau ataupun di masjid, melainkan di sebuah rumah sakit bersalin dekat taman lalu-lintas.
Beliau tidak sendiri, ada seseorang di timangannya, bayi mungil usia 4 hari bernama Qoonita. Ketiga sahabatku ramai bertanya pada teteh, “Gimana teh rasanya melahirkan? Ceritanya gimana, teh? Bukannya tadinya mau lahiran di tempat yang satu lagi ya? Kok di tempat tidur si bayi ngga ada label nama bayinya, teh? …”
Semua bersenda gurau, kecuali aku dan Qoonita. Bayi kecil itu sedang tidur tentu saja. Sedangkan aku menyimak baik-baik cerita teteh, aku kurang suka memotong pembicaraan orang yang sedang berbicara. Lihatlah beliau tetap ceria walaupun terlihat lelah. Sepengamatanku, semua wanita yang sedang hamil atau baru saja melahirkan itu cantiknya bertambah berkali-kali lipat. Mungkin karena suntikan semangat dari buah hati, atau mungkin hanya karena pancaran rasa syukur yang terus ditasbihkan dalam hati.
“Waduh-waduh, ini tiga orang udah heboh aja daritadi. Tapi yang satu ini belum ngomong apapun sejak awal :) Apakabar nurin?”
Aaaah siaaal, pasti beliau menyadari air mataku yang tergenang! Aku hanya tertawa kecil sambil mengalihkan wajahku agar yang lain tak melihat. Kubawa pandanganku ke langit-langit ruangan, tapi air yang kutahan mati-matian akhirnya tumpah juga.
Dengarlah, suaraku sudah bergetar, “Kabar baik, teh…”
Semua diam karena bingung. “Ng, oiya oiya daritadi nurin diem aja. Nurin mau menyampaikan sesuatu?” ucap salah satu sahabat.
“Biasanya yang diem-diem gini suka duluan.. hahaha..” kata teteh.
“hahaha.. apa ya…. teteh makin cantik, teh..”
Sepertinya memang hanya dua kalimat itu yang kuucapkan, sisanya aku hanya menyimak dan diam-diam menyeka air mata yang terus mengalir.

Di perjalanan pulang, sahabatku menyatakan takjub pada diriku sebagaimana aku takjub pada betapa mudahnya diriku sendiri menangis.
“Kok lo nangis sih??”
“Sebenernya gue juga ngga tau kenapanya. Aneh ya gue… hehe”
Mungkin karena haru, bisa menyaksikan salah satu keajaiban dunia, Qoonita.

***

Dan kepada sebuah senyum di parkiran,

Tadi malam aku mimpi akan berangkat berlayar.
Kapal masih menunggu di pelabuhan. Terombang ambing gelombang. Aku sudah siap dengan packingan sederhana, jadi kuletakkan barang-barangku yang seadanya di salah satu kabin. Aku duduk di sebelah bendera kapal, melihat laut dan merasakan anginnya yang asin. Tapi ternyata sebelum kapal angkat jangkar, ada apel di pelabuhan. Aku turun, lalu aku terbangun.

***

Dan kepada sebuah senyum di parkiran, pada magrib itu kita hanya mengangguk dan menyebutkan nama. Tanpa basa-basi, tak seperti aku pada teman-temanku dan kau pada teman-temanmu. Yang kuingat adalah kau sudah terlebih dulu menemukanku, lalu kau buang jauh pandanganmu kemudian kembali tersenyum pada helmku. Aku berlalu dalam gelap dan kau diam menunggu. Lalu aku gagu.

Advertisements

2 thoughts on “Pagi, Siang, Malam, dan Langit-langit

  1. ketuakelas says:

    Terima kasih banyak untuk tulisan ini, Dek… :)
    Tanpa ada aku pun di dalamnya, aku akan tetap menyanjung caramu bercerita kali ini. :’)

    Sekali lagi, terima kasih banyak sudah membantu begitu banyak hal… semoga kami bisa membalasnya suatu hari kelak. Tentu saja giliran kami akan tiba. Sepakat, yang diam-diam biasanya paling cepat… hihihihihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s