Sunday Afternoon

Jalan-jalan sendirian (JJS) sebenarnya bukan sesuatu yang harus diumbar-umbar. Maksudnya, (buat saya) JJS itu menyenangkan tapi bukan hal yang luar biasa jadi rasa-rasanya sih tidak penting untuk dipublikasikan lewat social media, apalagi jika disertai dengan mengasihani diri sendiri. Sometimes, it’s somewhat annoying if people do that.. Anyway, saya akan buat pengecualian untuk postingan kali ini karena ada pelajaran yang saya ambil.

Saya suka JJS. Jalan kaki sambil berada di tengah-tengah orang asing. Tanpa percakapan tentu saja, karena itu adalah saatnya saya berbincang dengan diri sendiri tanpa ada yang menanyakan tugas akhir atau mau ngapain setelah lulus atau sekedar nanyain jodoh. It keeps my mind busy while relaxing. Jadi, apa yang saya lakukan ketika JJS?
1. Memperhatikan… apapun. Sebenarnya saya suka jalan setapak dan bangunan dan orang-orang yang membawa keluarganya, oleh karena itu untuk poin ini saya memilih ciwok, peveje, atau braga. Kebun binatang juga sebenarnya pilihan bagus, hanya saja potensinya besar untuk digangguin om2 atau mas2. #hoek
Mall lebih enak (dan kondusif) karena tiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga saya bisa dengan mudah invisible, menyatu dengan udara dan memerhatikan orang-orang dari ujung mata.
2. Saya juga suka lihat-lihat buku, atau berada diantara buku-buku. Pilihannya adalah ridinglait dan knerku. Tapi suasana di sana seringkali bikin saya ketiduran, jadi daripada merepotkan mbak2nya, opsi yang lain adalah gramed, aksra, dan perplus.
3. Ke tempat makan yang sepi. Poin ini tidak merujuk pada makanannya. Saya hanya mencari tempat yang tenang untuk membaca. Jadi saya ‘bekal’ beberapa buku dan di sana saya hanya memesan teh atau beberapa makanan ringan.
Saya sering dimarahin mama kalau ketahuan JJS. “Sama siapa? Jangan suka pergi-pergi sendiri, apalagi anak perempuan.” Tapi selama ini saya berpikir, “Why on earth people would want to harm me? I’m just reading some books, I keep my purse and cellphone on the right place.. don’t worry, I won’t look expensive, I’m not even pretty, people won’t bother me, and it’s not like there will be a hurricane or nuclear war or something. Right?”

Sayangnya, kemarin saya mengalami hal yang cukup tidak menyenangkan yang berkaitan dengan jalan-jalan sendiri,
oke langsung saja:
hari minggu siang saya nyaris pingsan di sebuah toko di peveje.

Yah seperti biasa, saya bosan di kosan dan tanpa pikir panjang saya meraih ransel dan jaket kemudian berangkat naik angkot ke peveje. Saya sengaja tidak bawa motor karena:
1. Saya yakin pasti macet
2. Macet
3. Macet (dan tentu saja weekend seperti ini Bandung memang macet)
4. Saya yakin hari ini akan hujan dan kebetulan jas hujan saya sedang dipinjam teman. (dan ternyata memang hujan)
5. Biaya parkir mahal. Jika benar hujan, saya akan menghabiskan waktu berjam-jam disana untuk menunggu hujan reda. (dan ternyata memang saya berjam-jam disana)

Hal yang lupa saya perhitungkan adalah kondisi badan saya yang kurang sehat. Sungguh, saya ingat untuk membawa obat tapi saya lupa kalau orang sakit harusnya tidak kemana-mana, apalagi sendirian. Tapi emang karena saya hobi sight-seeing, alias JJS, saya ngga banyak pertimbangan untuk pergi refreshing. Di peveje, saya tawaf dari ujung ke ujung, dari ujung ke ujungnya lagi, ujung ke ujung dan seterusnya. Lihat-lihat etalase sekalian menghafal lokasi toko-toko yang ada di sana. “Oh toko yang ini pindah ke situ. Eh toko henna udah ngga ada ya? Pantesan kemaren gue cari ngga ada. Jadi inget dulu si X makan di keefsi trus lanjut makan di susigruf. Inget juga sama si Y, 6 jam masuk toko-toko trus malah matching-matchingin baju tanpa beli eh pulangnya nabrak tiang lampu di parkiran.”
Semua kegiatan itu tidak ada tujuan khusus kok. Murni ingin lihat-lihat berbagai macam benda dengan warna ini itu, bentuk ini itu, harga ini itu, padahal tidak ada niat untuk membeli.

Hingga akhirnya saya tiba di suatu toko. Saya tengah melihat-lihat barang ketika mendadak pusing dan berkeringat dingin. Mungkin karena kecapean jalan atau karena belum makan siang. Mbaknya yang melihat saya sempoyongan menawarkan kursi. Pandangan saya sudah kabur sebenarnya, berkunang-kunang, gelap. Hap. Saya berhasil duduk. Alhamdulillah.

what did just happened?? pikir saya.

Tiba-tiba rasa mual yang saya abaikan sedari tadi muncul lagi. Ah, mual & hampir pingsan, mungkin artinya tekanan darah saya rendah. Waktu SMA, saya pernah mengalami darah rendah seperti ini, waktu itu bahkan untuk mengangkat gelas saja tak mampu. Bahaya juga.
Kondisi seperti itu tidak memungkinkan saya untuk segera pulang. Berdiri saja susah. Saat itulah saya hampir panik tapi akhirnya memutuskan untuk makan siang dahulu di zenbu dan memulihkan tenaga sambil menunggu hujan reda.

Saat kita yakin orang lain takkan membahayakan kita (seperti saya yang suka JJS dan yakin ngga bakal kenapa-kenapa), mungkin itu adalah salah satu wujud kesombongan. Kata papa saya, Tuhan itu tidak suka orang yang sombong. Jadi, walaupun orang lain memang tidak membahayakan diri kita, ternyata kitalah yang membahayakan diri sendiri.

Kenapa saya bisa-bisanya lupa kalau sedang sakit? Karena saya agak susah membedakan antara malas dan sakit. Jadi biasanya walaupun tidak enak badan saya mengartikannya sebagai kemalasan dan saya tidak boleh melihara sifat malas. Hajar aja begitu istilahnya.

Akhir kata, mungkin memang tidak boleh terlalu sering JJS.
and i should be more concern about my own health.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s