Sirah Nabawiyah. Part 1: Buat apa?


Media massa itu punya andil dalam pembentukan opini. Sekaligus, media massa juga berkuasa membuat opini seakan-akan adalah fakta. Jadi, jika tidak percaya adanya teori konspirasi, janganlah nonton TV, jangan pula baca koran. Maksud saya di sini adalah jangan langsung percaya 100% terhadap berita yang ada di media massa. Waspada. Karena berita yang disuguhkan itu dipilih & diberitakan sedemikian rupa untuk membuat masyarakat fokus terhadap isu tertentu sehingga kadang hilanglah fokus terhadap masalah yang sesungguhnya ada di masyarakat.

Saya selalu tergelitik dengan opini yang beredar di masyarakat yang isinya menjelek-jelekan Islam. Terutama jika terjadi keadaan yang sesama muslim saling memaki. Apa lagi tujuan oknum-oknum media massa itu kalau bukan untuk membuat masyarakat fobia terhadap Islam dan mengadu domba sesama muslim? Dugaan saya ini bukannya tanpa dasar. Islam adalah konsepsi, Islam sempurna dengan aqidah dan syariat yang dibawanya. Sedangkan manusia adalah makhluk hidup dengan segala keterbatasan, yang hanya mengetahui hal-hal sebatas waktu usianya, dengan kata lain: manusia tiada sempurna. Sehingga perilaku manusia yang mengaku Islam bukanlah cerminan konsepsi Islam 100%.
Propaganda oleh media dilakukan dengan cara mengangkat sisi buruk manusia dan mengatasnamakan perilaku buruk itu sebagai kelakuan muslim secara general. Muslim lainnya yang tidak terima akhirnya menjelek-jelekan muslim lain, tapi melalui pendekatan liberal & sekuler, tidak dengan ilmu.

Dalam tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa jika kita ingin berkomentar mengenai Islam, pastikan kita tahu ilmunya. Jangan sombong terhadap sesuatu yang tidak kita ketahui. Contoh, “Ilmu agama gue emang sedikit dibandingin lulusan mesir, tapi gue tau caranya menghormati agama lain.” Tahukah bahwa menghormati agama orang lain pun dicontohkan oleh Rasulullah? Ada contohnya. Tahukah bahwa ternyata ilmu agama Islam itu tidak terpisah dari kehidupan kita bermasyarakat, dan bahkan bernegara? Tak hanya sebatas hubungan vertikal seorang individu terhadap Tuhannya. Begitulah sempurnanya Islam.

Jadi, jangan hanya berkata Islam Islam Islam tanpa kita tahu apa itu Islam. Berhati-hatilah dalam beropini berdasarkan opini orang lain. Berhati-hatilah dalam beropini berdasarkan berita di media massa. Karena kita, masyarakat, terlanjur terbiasa terpesona dengan indahnya perbedaan, padahal kebenaran yang mutlak itu jelas dalam Islam. Kesel kan dengan perilaku oknum yang mengaku muslim tapi sebenarnya tidak menjalankan konsepsi Islam? Oleh karena itu, brader en sister, daripada kita maki-maki orang ga jelas, sebaiknya kita lebih konkrit dengan memperluas wawasan kita mengenai Islam.

Salah satu cara untuk memahami Islam adalah dengan mengkaji Sirah Nabawiyah. Tujuan mengkaji Sirah Nabawiyah adalah agar kita dapat memperoleh gambaran tentang hakikat Islam secara lengkap, yang tercermin di dalam kehidupan Nabi. Oke, saya paham bahwa ada sebagian orang yang paranoid jika berhadapan dengan buku tebal gara-gara memang tidak hobi baca buku (terutama buku agama). Apalagi jika isinya tulisan semua, fontnya kecil-kecil, tidak menarik, dan setengah isi bukunya bahasa arab. Malasnya luar biasa. FYI, saya pernah menjadi salah satunya. Untuk baca buku agama, bisa dibilang progress laju membaca saya tidak terlalu signifikan. Lama banget. Tapi berbagai hal terjadi sehingga (ngga tau gimana) akhirnya saya doyan juga baca buku beginian. Nah untuk memfasilitasi pembaca yang ga doyan baca buku agama tapi sebenernya pengen tahu Islam lebih lanjut, secara berkala saya akan memosting artikel Islami berdasarkan buku apa yang sedang saya baca, atau kajian apa yang baru saya ikuti, dan sebagainya. Saya tahu bahwa tidak semua follower blog saya ini muslim dan yang muslim pun belum tentu mau membacanya, oleh karena itu izinkan saya untuk tidak langsung mem-publish tulisan saya yang masuk ke e-mail followers. Maksudnya begini: saya akan mempublish sebuah postingan kosong (yang nantinya sampai ke inbox e-mail followers), barulah setelah itu saya mengedit isi postingan tersebut. (Yah seperti yang selama ini saya lakukan sih sebenernya, ga ada yang berubah)

Sebagai postingan pertama dalam tulisan seri Sirah Nabawiyah di blog ini, saya akan sedikit membahas mengenai apa hubungannya Nabi Muhammad saw dengan Nabi terdahulu. Hubungan dakwah Nabi Muhammad dengan dakwah para Nabi terdahulu berjalan di atas prinsip ta’kid (penegasan) dan tatmim (penyempurnaan). Dan dakwah para Nabi didasarkan pada 2 asas. Pertama, aqidah. Kedua, syariat dan akhlak.

1. Aqidah
Aqidah mereka sama; dari Nabi Adam sampai kepada penutup para Nabi, Nabi Muhammad saw. Esensi aqidah mereka adalah iman kepada Allah swt, Yang Maha Esa, wahdaniyah. Semuanya membawa hakikat yang diperintahkan untuk menyampaikan kepada manusia, yaitu dainunah lillahi wahdah (tunduk patuh kepada Allah semata). Tidak mungkin akan terjadi perbedaan aqidah di antara dakwah-dakwah para Nabi karena masalah aqidah termasuk ikhbar (pengabaran). Ikhbar adalah berita-berita dari Allah tentang keesaan-Nya, sifat-sifat-Nya, dan berbagai perkara-perkara ghaib yang wajib kita imani.

2. Syariat dan akhlak
Syariat adalah penetapan hukum yang bertujuan untuk mengatur kehidupan masyarakat dan pribadi. Dalam masalah syariat, telah terjadi perbedaan menyangkut cara dan jumlah antara satu Nabi dan Nabi lainnya karena syariat termasuk dalam kategori insya’, bukan ikhbar (pengabaran) sehingga berbeda dengan masalah aqidah. Insya’ adalah perintah dan larangan yang dikehendaki Allah agar dilakukan oleh semua manusia. Selain itu, perkembangan zaman dan perbedaan umat atau kaum akan berpengaruh terhadap perkembangan syariat dan perbedaannya karena prinsip penetapan hukun didasarkan pada tuntunan kemaslahatan di dunia dan akhirat. Jadi, hukum-hukum syariat hanya terbatas pada umat tertentu, sesuai dengan kondisi umat tersebut.

Di poin ini ada yang menarik. Seorang tokoh JIL pernah berkata bahwa hukum Islam seharusnya direvisi agar sesuai dengan zaman. Justru sebenarnya Allah sudah merevisinya dengan adanya Rasulullah sebagai penerima wahyu, agar syariat itu sesuai dengan jamannya kita, kaumnya Nabi Muhammad. Islam (aqidah dan syariatnya) ini dari Allah, bukan buatan manusia. Jika hal sedasar itu kita gonta-ganti, jelas bahwa itu bukan lagi Islam.

Dari uraian di atas, jelas tidak ada apa yang disebut orang dengan Addin Samawiyah (agama-agama langit), yang ada adalah syari’at-syari’at Samawiyah, di mana setiap syari’at yang baru menghapuskan syari’at sebelumnya, sampai datang syari’at terkahir yang dibawa oleh penutup para Nabi dan Rasul, Nabi Muhammad Saw.

Ad-Dienul Haq hanya satu, Islam. Semua Nabi berdakwah kepadanya, dan memerintahkan manusia untuk tunduk kepada Allah, sejak Nabi Adam sampai Mauhammad saw. Dengan demikian semua Nabi dan Rasul diutus dengan membawa Islam yang merupakan agama di sisi Allah. Para ahli kitab mengetahui kesatuan agama ini. Mereka juga mengetahui bahwa para Nabi diutus untuk saling membenarkan dalam hal agama yang diutusnya. Mereka (para Nabi) tidak pernah berbeda dalam masalah aqidah. Tetapi para ahli Kitab sendiri berpecah belah dan berdusta atas nama para Nabi, kendatipun telah datang pengetahuan tentang hal itu kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka, sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah di atas.

Referensi:
Sirah Nabawiyah – Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy
http://jeprie.wordpress.com/2012/02/28/amar-maruf-nahi-unkar-dalam-islam/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s