Kontemplasi


Beberapa bulan yang lalu saya pernah menulis mengenai “saya sudah mendapatkan sesuatu di kampus.” Dan beberapa pembaca ternyata ada yang bertanya langsung pada saya, memangnya apa yang sudah didapatkan? Ada beberapa hal yang masuk ke dalam catatan saya yang berjudul: to-do-list before I graduate from itebe. Dan tiga hal berikut adalah sebagian dari keseluruhan list itu :)

1. Menjadi swasta yang “ada untuk himpunan”
Waktu jadi BP, saya suka miris melihat jarangnya kehadiran swasta di acara-acara himpunan. Terutama acara LPJ. Dulu, waktu LPJ m*tday, diks*r, BP, saya ngga inget siapa aja yang hadir, soalnya yang dateng cuma satu orang trus pergi, satu orang lain masuk trus pergi lagi. Selidik punya selidik, ternyata di himpunan lain juga begitu. Pertanyaan yang beredar di kampus adalah “kemanakah swasta?”. Saya tau sih, mungkin emang harusnya anak bawang yang inisiatif nanya ke senior. Tapi keberadaan swasta secara fisik untuk nongkrong di himpunan itu sebenernya seperti oase buat BP, kenapa? ibaratnya tuh seolah-olah kya “BP diberi kepercayaan oleh swasta untuk mimpin himpunan” or something like that. Oase, men. Memberi kepercayaan kan bukan berarti lepas tangan sama sekali. yah setidaknya itulah yang selama ini saya yakini. Okelah kalo mau nyalahin “SDM mahasiswa yang sedikit” atau “jurusan kita skip satu angkatan”, dsb. Karena (saat itu) memang kondisinya kya gitu. Kalo mau nanya2 tentang himpunan pun bingung juga karena ngga tau yang mana sosok expert yang pernah dihasilkan oleh himpunan. Saya ngga nyalahin angkatan tertentu sih. Secara personal saya ngga ada masalah sama seseorang atau sekelompok orang. Mereka orang yang baik-baik dan supel. Hanya saja mungkin mereka punya prioritas lain yang menurut mereka lebih penting, seperti lulus kuliah misalnya. Dan jelas bahwa saya ngga bisa nyalahin siapa-siapa mengenai itu. Saya cuma kurang melihat adanya swasta yang ingin “ada untuk himpunan”. That’s it. Konsep swasta ini mungkin ga umum ada di organisasi biasa, tapi memang himpunan saya bukanlah organisasi biasa, dan bukan sekedar organisasi belaka. Saya ngga bisa maksa orang lain untuk memahami hal yang sama sih, tapi saya tau apa yang ingin saya lakukan. Bisa atau ngganya ya cuma bisa dilihat setelah dilakukan.

2. Mencari ‘Latar Belakang’ dan ‘Kajian Pustaka’
Ibarat bikin proposal TA, kita pasti butuh latar belakang, yaitu alasan kenapa kita melakukan suatu goal. Di poin ini, goal akhir saya adalah lulus kuliah. Kajian pustaka saya cukup berbelit-belit. Saya mencoba mengisi ketersesatan dengan berbagai kegiatan yang tidak sempat saya lakukan ketika masih aktif di sektor formal kemahasiswaan kampus: mengajar di TK, membuat porfolio fotografi, pulang kampung, baca banyak buku, bersih-bersih isi kepala, bahkan sampai liburan ke luar negeri. Dan ternyata semuanya terjadi cuma sekejap. Bukannya tidak suka, hanya saja tiba-tiba saya mengalami kebuntuan.
Di ujung kebuntuan, saya hanya menemukan 2 orang yang menjadi alasan saya lulus kuliah: orang tua saya. Tapi entah kenapa rasanya kurang cukup, mengingat kita semua pun nanti di akhirat dihisabnya sendiri-sendiri. Saya jadi merasa bahwa saya juga harus punya alasan pribadi kenapa harus lulus. Alasan yang terkait visi hidup, yang akan menjadi titik terang setelah lulus. Apapun yang akan saya lakukan nanti, saya ingin bermanfaat untuk dunia. Menyumbangkan sesuatu bagi peradaban. Dan semoga hidupnya saya bukan jadi beban untuk memberatkan orang-orang yang berusaha memperbaiki bumi dan isinya. Dan beberapa waktu lalu saya menemukan bahwa lulus kuliah adalah salah satu tahap saya mewujudkan cita-cita itu.
Menjelang akhir perjuangan untuk lulus, kesimpulan saya malah berubah. Yang saya ingat malah cuma orang tua saya dan justru merekalah cita-cita saya yang paling besar. (Yes mom I know you’ll be reading this but please don’t share this post on your facebook, hehe. Just.. please.)

3. Memahami Arti Ulang Tahun
Sejak masuk kuliah, saya merasa bahwa ulang tahun hanya sesuatu yang kurang penting namun begitu dilebih-lebihkan oleh orang-orang. Apakah dengan kita memberi selamat ulang tahun, mereka jadi kaya mendadak? apakah dunia berubah? apakah anak-anak jalanan jadi bisa sekolah? apa korupsi bisa menghilang? What’s the point of people growing up when there’s no good-changes on planet earth? Dan ya, saya memberi ucapan selamat ulang tahun pun hanya ke segelintir orang-orang tertentu. Dalam rangka menunjukkan bahwa I think this is your special day, so because you’re very nice to me and you really think of me as your best friend, I want you to feel special and I just wanna say “Happy Birthday”. That’s it. Yeah right, I’m a very simple-minded person, I’m sorry about that.
Lalu, setahun terakhir -seperti yang sudah saya ceritakan pada poin 1- saya banyak melakukan hal-hal baru dan saya lebih banyak menyempatkan diri untuk merenung. Ternyata, ulang tahun adalah sebuah kontemplasi. Tapi bukan sejenis kontemplasi-tahun-baru. Lebih ke arah “apakah jiwa lo dan pertumbuhan fisik lo selaras?” Bukan berarti harus diselaraskan sih. Yang penting harus menjawab pertanyaan “yang mana yang harus dipertahankan dan mana yang harus lebih di-eksplor dari diri sendiri?” Seperti yang Michael Jackson bilang, kalo lu mau ngubah dunia, mulailah dari orang yang ada di cermin lu. “Take a look at yourself and make a change.” That kind of contemplation.
Ok then, I know that birthdays are somewhat meaningful if we look at it that way.

Ps.
Mungkin harus ada yang bisa menjelaskan kenapa matahari sore itu cepat sekali bergeraknya.

Advertisements