Chocolate Tasting at Pipiltin Cocoa *updated with pics*

I have no idea how would it be like experiencing a chocolate tasting event. All I know about chocolate is just that a chocolate drink is the best company in a cold late night after working on huge bunch of college assignments. LOLS. Anyway, one of my BFF, Laras, had an invitation from Pipiltin Cocoa to attend their chocolate tasting event. omg I’m so lucky she asked me to join her :”) So then, this morning Laras took a travel car from Bandung all the way to Jakarta, and we met at Pipiltin Cocoa exactly on 10:00 am.

20130706_125538

“We make chocolate from scratch”
Tulisan di dinding kaca depan toko Pipiltin Cocoa really did catch my eyes. Interesting. Ini pertama kalinya saya tau ada kafe cokelat (di Indonesia) yang mengolah sendiri cokelatnya langsung dari biji kokoa. Bean to bar. I did browse the internet last night, apparently Pipiltin Cocoa only produce cocoa from Indonesia! Why? Well I was there today to find that out :p

Acara dimulai sekitar pukul 10:00. Dipandu langsung oleh kedua pemiliknya, duo kakak-beradik Tissa Aunilla dan Irvan Helmi. Pertama-tama mas Irvan menjelaskan tentang biji kokoa dari Indonesia yang justru lebih banyak diproduksi di luar negeri. Indonesia adalah penghasil biji cocoa terbesar ke-tiga di dunia dan yang pertama di asia. Sayangnya hasil olah cokelat lebih banyak dilakukan oleh negara lain, Malaysia misalnya. Kalo kata Laras, ada berbagai hal yang menyebabkan minimnya produksi cokelat di Indonesia. Salah satunya adalah karena kelembaban kebanyakan gudang penyimpanan biji cocoa di Indonesia tidak dikontrol sehingga menyebabkan biji cocoa terserang jamur dan otomatis biji cocoa tidak diproses lebih lanjut. Karena itu juga, Pipiltin Cocoa benar-benar memilih pemasok biji kokoa mereka dengan sangat selektif agar cokelat yang dihasilkan benar-benar memiliki kualitas terbaik. Mbak Tissa menambahkan bahwa cokelat Indonesia justru lebih terkenal di luar negeri sehingga mereka berdua ingin Indonesia bangga dengan cokelat dari negeri sendiri. Kemudian mas Irvan juga menjelaskan secara singkat tentang bagaimana pembuatan cokelat dari biji kokoa and he also said that we’re going to see their micro-scale machine after the chocolate tasting! x) Yeay!! Oh anyway if you’re curious you can also see the animated illustration process in their website :D.

20130706_102130

Selanjutnya peserta chocolate tasting diberi kesempatan untuk mencoba berbagai potong cokelat dan membedakan rasanya berdasarkan beberapa hal. Yang pertama, kami membedakan cokelat antara jenis compound chocolate dan couverture chocolate. Compound chocolate is the chocolate that contains vegetable oil dan lots of other additives. Cokelat jenis ini lebih cepat lumer di lidah dan rasanya (biasanya) generally plain-sweet, manis gitu aja. While couverture chocolate is the high quality chocolate and of course it has chocolate as the main ingredients. Kalau yang ini cokelatnya ga langsung lumer tapi benar-benar kaya akan rasa. Jadi jika ada rasa smokey, woody, vanilla, fruity, itu dikarenakan karakter cokelatnya memang murni seperti itu tanpa adanya tambahan zat additif lain. Cool abis. Selain itu, kami juga mencoba untuk membedakan rasa cokelat berdasarkan intensitas dan juga asalnya. Ternyata ya, cokelat ‘kaya akan rasa’ yang kami coba itu biji kokoanya dari indonesia! Dari Aceh dan dari Bali. Wah, excitements. Kalau dari Aceh rasanya lebih smokey and you’ll definitely notice the tobacco flavor. Sedangkan yang dari Bali rasanya lebih fruity, unusual, and rich. Jujur aja saya agak kaget waktu ngerasain cokelat dari Bali, I never thought that a chocolate could have those unusually fun flavor^^. Ok now we know what’s the different between them. “Nanti tolong jangan salahin kami ya kalo setelah acara ini kalian jadi kurang merasakan nikmatnya makan cokelat merk tertentu.” hahaha, nice one :)))

20130706_100614

Proses yang paling menentukan bagusnya kualitas cokelat adalah pada proses growing & fermentation. Sayangnya masih banyak petani yang tidak mau mem-fermentasikan biji kokoanya. Padahal pemerintah sudah memberikan penyuluhan agar petani mau melakukan fermentasi sehingga kualitas cokelat bisa lebih baik. Setelah saya ngobrol dengan tante saya yang seorang dosen, ternyata masalah ada di pelaku jual beli biji kokoa yaitu kurangnya penghargaan terhadap biji kokoa yang difermentasi. Difermentasi atau tidak, harganya sama saja sehingga petani pun tidak merasa perlu untuk memfermentasi biji kokoa. Nah, inilah yang memicu Pipiltin Cocoa melakukan event chocolate tasting: untuk meningkatkan taste masyarakat dalam memilih cokelat. Jadi, saya pikir dengan meningkatnya permintaan masyarakat terhadap kualitas cokelat yang bermutu excellent, diharapkan penghargaan terhadap biji cocoa yang difermentasi juga meningkat. Epic. So yeah, one word for Pipiltin Cocoa: awesome!! :D

20130706_110938

20130706_110625

20130706_110745

20130706_112226

All photo by Nurinda Saumananda
Do not use without my permission.

Advertisements

4 thoughts on “Chocolate Tasting at Pipiltin Cocoa *updated with pics*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s