Ketika Seseorang Ingin Melaksanakan Dien Agamanya dengan Benar

2f515e6d7fba36639cb932e4b3505f24

Sebuah catatan untuk mengingatkan diri sendiri tentang kesombongan.

Jilbab
Saat saya duduk di kelas 1 SMP, ada banyak alasan yang bisa jadi pembenaran untuk saya tidak berjilbab. Seperti yang dulu pernah saya ceritakan, I once had been a victim of bullying. Dimaki-maki sudah menjadi makanan sehari-hari, di tempat lain saya difitnah seorang oknum agar teman se-geng menjauhi saya. Setahun dengan low self-esteem dan perasaan insecurity takut tidak punya teman. Haunted by the thought of jika tiba-tiba saya berjilbab jangan-jangan nanti saya ga diajak main lagi. Haters will hate. Jika tidak diajarkan menghormati orang lain, anak kecil bisa jadi bulliers paling kejam ala sinetron. Disaat yang bersamaan, saya masih ingat dengan jelas bahwa dulu seorang teman saya yang berjilbab harus menampakkan telinganya ketika difoto ijazah kelulusan SD dengan alasan bahwa pembolehan jilbab masih rancu dari pihak sekolah.
Ada begitu banyak alasan yang bisa jadi pembenaran untuk tidak berjilbab saat itu. Namun, yang saya ketahui dari mama dan guru ngaji saya, menutup aurat adalah sebuah kewajiban untuk melaksanakan agama saya dengan benar. Jadi ketika mama menyupport saya berjilbab, saya ngga banyak cari-cari alasan lagi untuk tidak berjilbab. Berjilbab adalah wajib hukumnya. Rok biru selutut dan seragam SMP lengan pendek yang terlanjur dibeli pun rela diberikan pada orang lain (padahal baru dipakai 1 tahun). Kemudian, oleh mama langsung siap disediakan rok panjang juga seragam lengan panjang. Jadi, hanya bermodalkan keyakinan bahwa rejeki setiap kita diatur oleh Allah swt, saya memutuskan untuk berjilbab di tahun ajaran baru kelas 2 SMP.
Ternyata kekhawatiran saya yang sebelumnya tidak terbukti. Setelah berjilbab, saya justru bertemu dengan sahabat-sahabat baru yang menerima saya apa adanya tanpa saya perlu takut dianggap cupu. Tak hanya itu, suatu hari di kelas 3 SMP, tanpa disangka-sangka salah satu bulliers meminta maaf pada saya, padahal saya tidak merasa ngapa-ngapain dan ini bisa terjadi hanya karena Allah swt yang menetapkannya demikian. Jadi benar bahwa kita tidak perlu khawatir atas rezeki kita. Tidak perlu khawatir apakah nanti tidak punya teman, atau tidak dapet kerja gara-gara berjilbab. Karena rezeki kita sudah dijatah oleh Allah swt dan yang penting kita berusaha untuk memenuhi kewajiban kita sebagai seorang muslimah.

Pacaran
Ketika saya memutuskan untuk tidak pacaran, saya yakin bahwa jodoh setiap kita sudah diatur oleh Allah swt. Pacaran tidak akan mempercepat datangnya jodoh, dan begitupula tidak pacaran. Yang saya pahami adalah ketika kita mencintai seseorang karena Allah, artinya kita mencintai seseorang itu karena Allah memerintahkan kita untuk mencintainya. Kita bebas mencintai, tapi tentu saja dengan cara yang tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang Allah swt tetapkan. Seperti cinta kita pada orangtua dan cinta kita pada suami/istri. Misalnya, Allah swt menyuruh kita untuk berbuat baik pada orang tua, dengan demikian kita mencintai orangtua karena Allah yang menyuruh. Cara mencintai juga sudah diatur, kita harus selalu berbuat baik dan bahkan tidak boleh mengucapkan kata, “ah”. Tetap berbuat baik dan menghormati walaupun (misalnya) berbeda agama dengan orang tua. Mungkin diantara kita ada yang berpikir, “halah, gue mah ngga perlu disuruh untuk bisa mencintai orang lain. Gue jelas-jelas lebih tulus. Karena cinta gue murni, ngga perlu disuru-suru macam itu.” Astaghfirullah, dengan itu jangan-jangan kita hendak berpikir bahwa kita adalah maha mencintai? Padahal kita tahu bahwa Yang Maha Mencintai makhluk-Nya hanyalah Allah swt semata. Dan Allah swt lah Sang pembolak-balik hati kita. Kesombongan memang datangnya halus, dan seringkali mengkambinghitamkan istilah ‘cinta’.
Kalau begitu, bagaimana dalam konteks ‘pacaran’? Allah swt tidak melarang kita punya kecenderungan terhadap lawan jenis, tapi yang penting cara-caranya harus sesuai dengan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, “jangan mendekati zina”. Jadi, pacaran antara 2 orang yang belum halal itu bukanlah karena Allah, karena aturannya tidak sesuai dengan aturan yang Allah tetapkan.

Jilbab dan pacaran. Dua contoh itu hanyalah sedikit dari banyak sekali seluk-beluk Islam. Ketika seseorang ingin melaksanakan dien agamanya dengan benar, banyak orang yang mencemooh dengan mengatakan bahwa seseorang itu adalah kaum ekstremis, sesuatu yang buruk dan tidak boleh ditiru.

ekstremis /ek·stre·mis/ /ékstrémis/ n 1 orang yg ekstrem; 2 orang yg melampaui batas kebiasaan (hukum dsb) dl membela atau menuntut sesuatu;

Jika orang yang ingin melaksanakan ajaran agamanya dengan benar itu disebut dengan ekstremis, maka orang yang mencemooh itupun sama-sama kaum ekstremis. Bedanya adalah mereka ekstrem menolak melaksanakan ajaran agama dengan benar. Oleh karena itulah saya tidak suka menggunakan istilah ekstremis. Itu istilah yang tendensius (dalam mengemukakan bahwa sesuatu itu buruk) tanpa kedua pihak memahami arti yang sebenarnya yaitu sama-sama melampaui batas dalam menuntut sesuatu. Pertanyaannya, batasnya apa? Batas relatif yang dikarang oleh manusia atau batas mutlak dari Tuhan? #retoris

Yang lebih miris adalah ketika ada seorang muslim (sebutlah ia Mawar) yang merendahkan muslim lain yang ingin melaksanakan ajaran Islam dengan lebih baik (sebutlah ia Melati). Apa yang membedakan keduanya? Pengetahuan (dan tentu saja yang pasti adalah hidayah dari Allah swt).
Ada tiga hal mengenai pengetahuan.
Pertama, ketidaktahuan. Mungkin ada ajaran-ajaran Islam yang sudah diketahui Melati tapi belum diketahui oleh Mawar. Misalnya si Mawar tidak tahu bahwa berjilbab itu adalah wajib sehingga ia mengatakan bahwa Melati yang berjilbab sangatlah katrok dan bawa-bawa budaya Arab. Padahal jelas-jelas Islam bukanlah budaya Arab.

Kedua, tahu tapi tidak melaksanakan. Ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini, namun sepertinya takkan selesai jika saya bahas sekarang.

Ketiga, banyak orang yang bangga dengan sedikitnya ilmu mereka. Aneh? Analoginya begini.. Saya mau bikin kolam ikan di halaman rumah dan saya punya blueprint kolam ikan dari ahlinya. Tetangga saya yang tidak tau apa-apa soal kolam ikan malah menggurui bahwa kolam ikan itu harus begina begini begitu. Padahal yang ia jelaskan jauh berbeda dari blueprint saya dan dia sendiri sebenarnya hanya mendengar dari orang lain, bahkan ia belum pernah melihat kolam ikan itu seperti apa. Tapi, dengan bangganya ia berucap, “yah saya tau saya tidak punya kolam ikan, tapi tanaman di halaman saya lebih cantik-cantik daripada di halaman anda.”

Sama seperti ketika ada orang yang berkata, “Ilmu agama saya memang lebih rendah dari anda, tapi saya lebih tahu caranya bersikap toleransi dan bersopan-santun.” Banyak orang yang bangga akan ketidaktahuannya. Memalukan? Itu jelas memalukan sekali. Padahal orang yang berilmu, pasti tahu bahwa merendahkan orang lain (merasa lebih baik dari orang tsb) adalah dilarang hukumnya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.”
QS Al-Hujurat:11.

“ana khairu minhu” = “aku lebih baik daripadanya”
| adalah rasa yang harus dimusuhi karena setiap saat akan mencoba merasuk ke hati
| adalah haram pada yang kafir sekalipun | apalagi saudaramu Muslim seiman serumpun
| “sombong (al-kibr) ialah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” (HR Muslim)
tweet oleh ust @felixsiauw

Dan ketika seseorang ingin melaksanakan dien agamanya dengan benar, percayalah bahwa haters gonna hate, whatever you told them.

“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.” – QS Al-Baqarah:7

Tapi dari semua kesombongan, salah satu yang paling berbahaya mungkin adalah sombong karena merasa berilmu. Astaghfirullah. Semoga tulisan ini juga merupakan pengingat untuk diri saya sendiri. Menjadi cermin untuk mengingatkan bahwa segala ilmu yang kita miliki ditujukan agar kita bisa menjadi manfaat untuk orang lain, bukan untuk menyombongkan diri. Jangan lupa bahwa dibalik segala ilmu yang ada pada diri kita, ada banyak sekali aib yang telah Allah tutupi.

b161757f6cf5573b1716f579f5cd6f9e

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s