Di Perbatasan

7f009b0475cb97aea813624be766ac83
Diantara kita memaknai hidup dengan modal kenangan masa kanak-kanak, modal berkenalan dengan kawan sekolah, dalam laboratorium miniatur dunia yang kala itu kita disebut mahasiswa. Kita memaknai hidup berdasarkan nilai-nilai yang sudah ada. Ingat, di dunia ini tidak ada yang original. Kita paham bahwa bahagia adalah wujud dari kesederhanaan: hati, dan juga cara hidup. Dan kita pun sudah tahu bahwa oknum pemerintah kita seharusnya memerintah, bukan mengimbau.

Itulah modal-modal yang kita rasa cukup untuk menghakimi jagad raya.
Dengan modal sekecil itu, kita sering merasa sudah tahu hakikat dunia. Padahal kita hanya mengintipnya dari sebuah lubang jarum. Mengintip dari satu sisi, padahal dunia punya 7 dimensi.

Lihatlah dunia, dalam arti fisik: laut udara dan daratan. Lihat segi antropologis, cicipi sistem yang mereka sajikan.

Katanya kolom agama akan dihapuskan. Katanya agar tidak ada diskriminasi dalam kepengurusan birokrasi. Jika benar begitu apa bedanya dengan prancis yang tidak mengizinkan warga negaranya memakai atribut keagamaan agar tidak menonjol? Orang indonesia itu toleransinya tinggi, tapi mudah dihasut.

29 Desember 2013,
from Kranji to Rafless Place, Singapore

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s