Adapt, Quit, or Evolve.

850440d6586e3acc775480b146b05d2c
Saya pernah baca sebuah artikel, poin utamanya kira-kira berbunyi seperti ini: “Ingin mengingat lebih banyak? Jangan memotret.” Ada benarnya. Penggunaan kamera tidak hanya sekedar merekam momen. Dengan (hanya) memotret, kita menyerahkan kemampuan ‘mengingat’ kepada kamera, tapi indera kita tak ada disana, tak digunakan. Tak heran kenapa selama ini ketika saya mengobservasi sesuatu untuk difoto, saya merasa bahwa I need to taste it first. Saya ingin merasakannya melalui semua indera tubuh saya terlebih dahulu sebelum memotret. Karena jika tidak, semuanya akan lewat, meaningless. Bagaimana teksturnya? seperti katun? berbenang jarang? rapat? sekasar apa? sekeras apa? seperti marmer? aluminium? bagaimana bunyinya? dong dong? tuk tuk tuk? Seperti apa dimensinya? Bagaimana bayangannya? Perhatikan, sentuh, cium, cicip, dengar.
Untuk memotret event, selain memerhatikan teknis seperti ruang dan sumber cahaya, saya akan menghadirkan diri diantara orang-orang, mereka yang bergurau, tawanya, tersipu-sipunya, rasa rindu yang saling diluapkan, cerita-cerita nya, wangi parfumnya, tinggi badannya, sentuhan kulitnya. Indera saya ada disana untuk berfungsi dan mengingat. Not only visually, but also physically and auditory. Inilah yang saya istilahkan dengan ‘menikmati kemampuan observasi’, seperti detektif. Hasil observasi itu kemudian ‘dituliskan’ dengan cahaya, dengan persepektif personal. Sesimpel itu.

Banyak yang bilang bahwa saya adalah seseorang yang sangat passionate terhadap apa yang saya suka. I always am, karenanya banyak orang yang kaget ketika dua bulan yang lalu saya telah memutuskan untuk tidak lagi mengejar fotografi sebagai profesi. Jangan lupa bahwa suatu hal punya beberapa dimensi. Dengan saya tidak mengejarnya sebagai profesi, bukan berarti saya benci. It’s because I see myself as an artist. I shoot what I want to shoot. I don’t shoot what I don’t want to shoot. Seorang yang merupakan profesional mungkin tidak punya pilihan ini, setidaknya untuk mereka yang menggantungkan kepulan asap dapurnya pada profesi tersebut.

Berkat sebuah tulisan, saya baru menyadari mengenai apa yang saya rasakan selama 2 tahun terakhir terhadap kamera.
Ketika seseorang mengundang saya ke sebuah event, kalimat terakhirnya seringkali diikuti dengan, “jangan lupa bawa kamera ya”. Tidak salah sebenarnya. Wajar. Selama 4 tahun pertama memiliki DSLR sih rasanya senang. Tapi lama kelamaan saya jadi merasa bahwa they want the presence of my camera, not me as a person. Saya jengah.

Berbeda jika ada yang mengajak untuk motret bareng. I love those kinds of invitation. Dan juga saya tidak akan menolak jika ada sahabat dekat yang minta tolong difoto. I owe them their time and trust, so I’ll be glad to help because time and trust is just priceless. I value those people and I really appreciate them.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s