3 Things that I Look Forward To in 2016

1046a94a8b58229f57291e10530a8c0f
Saya ngga gitu yakin memberi judul postingan ini sebagai “a new year resolution list” heheh, because you know, a lot of people don’t really do them. Seperti saya yang sudah 4 tahun terakhir tidak terlalu ‘ngoyo’ dengan resolusi tahun baru, tapi alhamdulillah sering kali merasa cukup puas dengan apa yang ada #pasrah #haha. Jadi ya, I just want to change things a bit dengan merutinkan simple basic things to do in the year 2016!

– Read more books
Sepertinya sejak lulus S1 saya mulai kurang membaca buku. Bukan hanya karena kurangnya referensi buku yang bagus, tapi karena sejak baca buku-bukunya Pramoedya di tahun 2010 saya jadi super pemilih dalam menentukan buku yang mau saya baca. Terutama untuk milih buku fiksi sih. Anyway, I already have a list of books I’d love to read. Ngga banyak, yang penting I think I should prepare the food for the mind :)

– Write more often
The 30 days challenge is a very nice way to start this habit! Sebagai trigger untuk terus menulis tentunya. Selain itu, di poin ini saya juga berniat untuk lebih sering menulis pake bahasa Indonesia dibandingkan yang sudah-sudah. Ini terinspirasi dari sebuah quote yang terus terngiang di benak saya dari sebuah buku yang saya baca beberapa tahun lalu.
Cerita di buku itu memiliki latar sekitar tahun 1890-an. Ceritanya ada seorang terpelajar, namanya Minke, ia cendikiawan pribumi yang ahli menulis dalam bahasa londo. Di masa itu, jadi orang kya gitu itu wow banget. Suatu hari salah satu sahabatnya, Jean Marais (seorang seniman berkebangsaan Prancis) meminta Minke untuk menulis dalam bahasa Melayu. Ini bertujuan agar bangsanya sendiri dapat membaca tulisan Minke. Agar ilmu and informasi yang terkandung dalam tulisan Minke bisa memperkaya benak bangsanya sendiri. Tapi Minke malah terkejut dan merasa terhina, ia merasa rendah apabila harus menulis dalam Melayu. Singkatnya begitu. Ada empat hal yang ada di pikiran saya:
1. I totally agree. Kadang saya pikir beberapa tulisan saya akan terasa lebih bermanfaat kalo ditulis pake bahasa Indonesia. Terbukti bahwa postingan yang lebih sering ditemukan google adalah post saya yang pake bahasa Indonesia.
2. Sejujurnya saya masih sering merasa dilema antara ‘ngga pengen tulisan saya dibaca orang’ = oleh karena itu saya pake bahasa Inggris dan ‘pengen bermanfaat buat orang lain’ = nulis pake bahasa Indonesia & pahala nya gede.
3. Daripada milih salah satu, kemungkinan besar saya bakal nulis bilingual di postingan yang terpisah. Ini kalo urgent aja sih, ngga untuk semua postingan yang akan saya bikin. Karena banyak term/istilah tertentu yang hanya bisa diekspresikan menggunakan bahasa tertentu. And sometimes I’m all about expression baby.. Jadi, mari berdoa supaya saya bisa memanage waktu dengan lebih baik.
4. Walaupun demikian, saya bukan penganut ‘saya harus berbahasa lokal di negara saya sendiri’ seperti yang banyak orang pahami. Karena menurut saya, semua itu tergantung target pembaca/pendengarnya. Contoh: dari statistik wordpress saya menemukan bahwa website saya ini pernah dibuka dari negara Afrika Selatan, Greece, Hungary, Switzerland, Romania, Ukraine, Syria, Kenya, dan lain-lain (bahkan dari Slovakia yang saya ngga tau itu dimana). Dengan kata lain, arus informasi jaman sekarang ini udah skala dunia, bukan lagi skala orang se-kecamatan. Batasannya cuma bahasa (untuk ini pun sebenernya udah ada auto translate di browser). Jadi intinya, (untuk jaman sekarang) kita ngga bisa nge-judge bahwa orang Indonesia yang nulis/ngomong pake bahasa lain itu ngga cinta bahasa Indonesia. Semua orang punya caranya masing-masing dalam mengungkapkan rasa nasionalismenya.

– Room small renovation
Sebenernya saya ini hobi nge-geser perabotan rumah. Kamar kosan saya yang di Bandung udah sering jadi korban tiap 6 bulan. Kasur yang awalnya di pojok kamar bisa saya bikin melintang di tengah kamar. Rak-rak kecil bisa saya tumpuk trus jadi keliatan punya rak gede. Satu dinding bisa berasa dipindah ke sisi yang lain karena tempelan-nya pindah. Pokoknya total room makeover kalo bisa. Seandainya nge-cat ulang kamar itu kerjaan yang gampang, bisa jadi saya ganti warna cat 2 sisi dinding kamar tiap tahun. Beberapa temen yang main ke kamar saya yang sekarang sih bilang suasananya homy dan super inspiring -walaupun saya ngerasa ini lebih mirip ‘sarang’ daripada selayaknya dekorasi kamar adult woman usia 26 tahun. Dan sekarang udah hampir 3 tahun kamar saya di rumah ini suasananya ngga berubah. My room is calling for a makeover!

Advertisements

One thought on “3 Things that I Look Forward To in 2016

  1. Apriany says:

    1. share buku2nyaaa pleaseee
    2. aku juga suka rombak kamarkuu… aku bosanan orangnya hehe. tapi selalu yangs sederhana sih dan butuh bantuan mbak yang jaga kost untuk bersih2 dan aku yang geser2 hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s