A Pair of Shoes

3fdde676e837241fff7b2f78638da475
Sometimes (just sometimes), I get deeply sad and depressed just because a pair of shoes. Nothing fits on my feet like a glove. I feel like the world is not made for me that it made water puddle on my eyes.

Yah masalah klasik sih, saya pake ukuran 43 (cewek) yang notabene ngga ada di pasar Indonesia (malah mungkin ga masuk pasar asia). Kalo custom made, so far semuanya bikin kaki lecet. So actually kalo dirasa-rasa bener-bener, all of my shoes hurt my feet. Kecuali sepatu olahraga sih, soalnya saya pake sepatu laki-laki. Although I might look like a Nike model with those shoes on (minta dilempar gajah), tapi yah seandainya aja saya bisa pake sepatu olahraga itu ke kondangan, kantor, dan jalan santai tanpa keliatan kya mau lari marathon (atau terlihat seperti dr. House).

But I shouldn’t complain because I’m lucky enough to have shoes. Bahkan beberapa diantaranya cukup bagus. And I’m even lucky enough to have legs! Punya kaki untuk dipasangin sepatu. Kadang untuk nikmat-nikmat basic kya gini kita lalai bersyukur kepada Yang Maha Pencipta. Ngga tau diri banget sih -gitu kali ya. Pingin ini itu banyak sekali (kemudian nyanyi doraemon). Seperti nikmat sehat. Baru tau sehat itu enak kalo kita udah sakit. Jadi, mari lebih sering menyebut nikmat-nikmat basic itu seusai shalat kita, bersyukur. Mengheningkan cipta, dimulai.

Advertisements

Kidney Stone Story

dfdde435aaf70c7c69bc99bb89affafd
Still in holiday atmosphere, yes? How about some laid back chat with some coffee and pajamas? Okay maybe not that laid back because I’m going to share a story that I might have had a cringe attack if only I’m not the one who had the experience with it hahaha. This blog post is going to be about how I dealt with kidney stones. If you follow me on instagram you probably already know what had happened.

So, just about three weeks ago, life had been sort of tough for me. Long story short, I was 24 when I was first diagnosed with kidney stones (I’m now 25 so that hasn’t been too long actually). Don’t ask me how I did know there are stones in my kidney because it was sooo terrifying. But I’ll tell you anyway because this is the purpose of my writing haha. So here it goes.

(Disclaimer: The content is not intended to be a substitute for professional medical advice, diagnosis, or treatment. Always seek the advice of your physician or other qualified health provider with any questions you may have regarding your medical condition.)

Continue reading

Miracle

Kita sering kali menyia-nyiakan nikmat sehat dengan tidak memanfaatkannya untuk hal-hal yang positif. Kita tidak tahu betapa berharganya organ tubuh kita, sampai nanti organ tersebut tidak berfungsi lagi. But I’m not about to talk about losing body parts. This posting is about how the disabled got the chance to enjoy something they never experienced before. You know I watch youtube alot. And this morning I stumbled upon a video about cochlear implant on children who has hearing disability. Children are the most honest human alive. In these video you can see how surprised and excited they are for their very first time listening.
Sebuah gambaran bahwa pendengaran merupakan nikmat yang luar biasa dari Tuhan..

“Wahai manusia dan jin, nikmat yang mana di antara nikmat-nikmat Tuhanmu yang kamu dustakan?”
– QS Ar-Rahmaan:13 (yang diulang sebanyak 31 kali dalam surat tsb)

Ketika Seseorang Ingin Melaksanakan Dien Agamanya dengan Benar

2f515e6d7fba36639cb932e4b3505f24

Sebuah catatan untuk mengingatkan diri sendiri tentang kesombongan.

Jilbab
Saat saya duduk di kelas 1 SMP, ada banyak alasan yang bisa jadi pembenaran untuk saya tidak berjilbab. Seperti yang dulu pernah saya ceritakan, I once had been a victim of bullying. Dimaki-maki sudah menjadi makanan sehari-hari, di tempat lain saya difitnah seorang oknum agar teman se-geng menjauhi saya. Setahun dengan low self-esteem dan perasaan insecurity takut tidak punya teman. Haunted by the thought of jika tiba-tiba saya berjilbab jangan-jangan nanti saya ga diajak main lagi. Haters will hate. Jika tidak diajarkan menghormati orang lain, anak kecil bisa jadi bulliers paling kejam ala sinetron. Disaat yang bersamaan, saya masih ingat dengan jelas bahwa dulu seorang teman saya yang berjilbab harus menampakkan telinganya ketika difoto ijazah kelulusan SD dengan alasan bahwa pembolehan jilbab masih rancu dari pihak sekolah.
Ada begitu banyak alasan yang bisa jadi pembenaran untuk tidak berjilbab saat itu. Namun, yang saya ketahui dari mama dan guru ngaji saya, menutup aurat adalah sebuah kewajiban untuk melaksanakan agama saya dengan benar. Jadi ketika mama menyupport saya berjilbab, saya ngga banyak cari-cari alasan lagi untuk tidak berjilbab. Berjilbab adalah wajib hukumnya. Rok biru selutut dan seragam SMP lengan pendek yang terlanjur dibeli pun rela diberikan pada orang lain (padahal baru dipakai 1 tahun). Kemudian, oleh mama langsung siap disediakan rok panjang juga seragam lengan panjang. Jadi, hanya bermodalkan keyakinan bahwa rejeki setiap kita diatur oleh Allah swt, saya memutuskan untuk berjilbab di tahun ajaran baru kelas 2 SMP.
Ternyata kekhawatiran saya yang sebelumnya tidak terbukti. Setelah berjilbab, saya justru bertemu dengan sahabat-sahabat baru yang menerima saya apa adanya tanpa saya perlu takut dianggap cupu. Tak hanya itu, suatu hari di kelas 3 SMP, tanpa disangka-sangka salah satu bulliers meminta maaf pada saya, padahal saya tidak merasa ngapa-ngapain dan ini bisa terjadi hanya karena Allah swt yang menetapkannya demikian. Jadi benar bahwa kita tidak perlu khawatir atas rezeki kita. Tidak perlu khawatir apakah nanti tidak punya teman, atau tidak dapet kerja gara-gara berjilbab. Karena rezeki kita sudah dijatah oleh Allah swt dan yang penting kita berusaha untuk memenuhi kewajiban kita sebagai seorang muslimah.

Continue reading

Sirah Nabawiyah. Part 1: Buat apa?


Media massa itu punya andil dalam pembentukan opini. Sekaligus, media massa juga berkuasa membuat opini seakan-akan adalah fakta. Jadi, jika tidak percaya adanya teori konspirasi, janganlah nonton TV, jangan pula baca koran. Maksud saya di sini adalah jangan langsung percaya 100% terhadap berita yang ada di media massa. Waspada. Karena berita yang disuguhkan itu dipilih & diberitakan sedemikian rupa untuk membuat masyarakat fokus terhadap isu tertentu sehingga kadang hilanglah fokus terhadap masalah yang sesungguhnya ada di masyarakat.

Saya selalu tergelitik dengan opini yang beredar di masyarakat yang isinya menjelek-jelekan Islam. Terutama jika terjadi keadaan yang sesama muslim saling memaki. Apa lagi tujuan oknum-oknum media massa itu kalau bukan untuk membuat masyarakat fobia terhadap Islam dan mengadu domba sesama muslim? Dugaan saya ini bukannya tanpa dasar. Islam adalah konsepsi, Islam sempurna dengan aqidah dan syariat yang dibawanya. Sedangkan manusia adalah makhluk hidup dengan segala keterbatasan, yang hanya mengetahui hal-hal sebatas waktu usianya, dengan kata lain: manusia tiada sempurna. Sehingga perilaku manusia yang mengaku Islam bukanlah cerminan konsepsi Islam 100%.
Propaganda oleh media dilakukan dengan cara mengangkat sisi buruk manusia dan mengatasnamakan perilaku buruk itu sebagai kelakuan muslim secara general. Muslim lainnya yang tidak terima akhirnya menjelek-jelekan muslim lain, tapi melalui pendekatan liberal & sekuler, tidak dengan ilmu.

Dalam tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa jika kita ingin berkomentar mengenai Islam, pastikan kita tahu ilmunya. Jangan sombong terhadap sesuatu yang tidak kita ketahui. Contoh, “Ilmu agama gue emang sedikit dibandingin lulusan mesir, tapi gue tau caranya menghormati agama lain.” Tahukah bahwa menghormati agama orang lain pun dicontohkan oleh Rasulullah? Ada contohnya. Tahukah bahwa ternyata ilmu agama Islam itu tidak terpisah dari kehidupan kita bermasyarakat, dan bahkan bernegara? Tak hanya sebatas hubungan vertikal seorang individu terhadap Tuhannya. Begitulah sempurnanya Islam.

Jadi, jangan hanya berkata Islam Islam Islam tanpa kita tahu apa itu Islam. Berhati-hatilah dalam beropini berdasarkan opini orang lain. Berhati-hatilah dalam beropini berdasarkan berita di media massa. Karena kita, masyarakat, terlanjur terbiasa terpesona dengan indahnya perbedaan, padahal kebenaran yang mutlak itu jelas dalam Islam. Kesel kan dengan perilaku oknum yang mengaku muslim tapi sebenarnya tidak menjalankan konsepsi Islam? Oleh karena itu, brader en sister, daripada kita maki-maki orang ga jelas, sebaiknya kita lebih konkrit dengan memperluas wawasan kita mengenai Islam.

Salah satu cara untuk memahami Islam adalah dengan mengkaji Sirah Nabawiyah. Tujuan mengkaji Sirah Nabawiyah adalah agar kita dapat memperoleh gambaran tentang hakikat Islam secara lengkap, yang tercermin di dalam kehidupan Nabi. Oke, saya paham bahwa ada sebagian orang yang paranoid jika berhadapan dengan buku tebal gara-gara memang tidak hobi baca buku (terutama buku agama). Apalagi jika isinya tulisan semua, fontnya kecil-kecil, tidak menarik, dan setengah isi bukunya bahasa arab. Malasnya luar biasa. FYI, saya pernah menjadi salah satunya. Untuk baca buku agama, bisa dibilang progress laju membaca saya tidak terlalu signifikan. Lama banget. Tapi berbagai hal terjadi sehingga (ngga tau gimana) akhirnya saya doyan juga baca buku beginian. Nah untuk memfasilitasi pembaca yang ga doyan baca buku agama tapi sebenernya pengen tahu Islam lebih lanjut, secara berkala saya akan memosting artikel Islami berdasarkan buku apa yang sedang saya baca, atau kajian apa yang baru saya ikuti, dan sebagainya. Saya tahu bahwa tidak semua follower blog saya ini muslim dan yang muslim pun belum tentu mau membacanya, oleh karena itu izinkan saya untuk tidak langsung mem-publish tulisan saya yang masuk ke e-mail followers. Maksudnya begini: saya akan mempublish sebuah postingan kosong (yang nantinya sampai ke inbox e-mail followers), barulah setelah itu saya mengedit isi postingan tersebut. (Yah seperti yang selama ini saya lakukan sih sebenernya, ga ada yang berubah)

Sebagai postingan pertama dalam tulisan seri Sirah Nabawiyah di blog ini, saya akan sedikit membahas mengenai apa hubungannya Nabi Muhammad saw dengan Nabi terdahulu. Hubungan dakwah Nabi Muhammad dengan dakwah para Nabi terdahulu berjalan di atas prinsip ta’kid (penegasan) dan tatmim (penyempurnaan). Dan dakwah para Nabi didasarkan pada 2 asas. Pertama, aqidah. Kedua, syariat dan akhlak.

1. Aqidah
Aqidah mereka sama; dari Nabi Adam sampai kepada penutup para Nabi, Nabi Muhammad saw. Esensi aqidah mereka adalah iman kepada Allah swt, Yang Maha Esa, wahdaniyah. Semuanya membawa hakikat yang diperintahkan untuk menyampaikan kepada manusia, yaitu dainunah lillahi wahdah (tunduk patuh kepada Allah semata). Tidak mungkin akan terjadi perbedaan aqidah di antara dakwah-dakwah para Nabi karena masalah aqidah termasuk ikhbar (pengabaran). Ikhbar adalah berita-berita dari Allah tentang keesaan-Nya, sifat-sifat-Nya, dan berbagai perkara-perkara ghaib yang wajib kita imani.

2. Syariat dan akhlak
Syariat adalah penetapan hukum yang bertujuan untuk mengatur kehidupan masyarakat dan pribadi. Dalam masalah syariat, telah terjadi perbedaan menyangkut cara dan jumlah antara satu Nabi dan Nabi lainnya karena syariat termasuk dalam kategori insya’, bukan ikhbar (pengabaran) sehingga berbeda dengan masalah aqidah. Insya’ adalah perintah dan larangan yang dikehendaki Allah agar dilakukan oleh semua manusia. Selain itu, perkembangan zaman dan perbedaan umat atau kaum akan berpengaruh terhadap perkembangan syariat dan perbedaannya karena prinsip penetapan hukun didasarkan pada tuntunan kemaslahatan di dunia dan akhirat. Jadi, hukum-hukum syariat hanya terbatas pada umat tertentu, sesuai dengan kondisi umat tersebut.

Di poin ini ada yang menarik. Seorang tokoh JIL pernah berkata bahwa hukum Islam seharusnya direvisi agar sesuai dengan zaman. Justru sebenarnya Allah sudah merevisinya dengan adanya Rasulullah sebagai penerima wahyu, agar syariat itu sesuai dengan jamannya kita, kaumnya Nabi Muhammad. Islam (aqidah dan syariatnya) ini dari Allah, bukan buatan manusia. Jika hal sedasar itu kita gonta-ganti, jelas bahwa itu bukan lagi Islam.

Dari uraian di atas, jelas tidak ada apa yang disebut orang dengan Addin Samawiyah (agama-agama langit), yang ada adalah syari’at-syari’at Samawiyah, di mana setiap syari’at yang baru menghapuskan syari’at sebelumnya, sampai datang syari’at terkahir yang dibawa oleh penutup para Nabi dan Rasul, Nabi Muhammad Saw.

Ad-Dienul Haq hanya satu, Islam. Semua Nabi berdakwah kepadanya, dan memerintahkan manusia untuk tunduk kepada Allah, sejak Nabi Adam sampai Mauhammad saw. Dengan demikian semua Nabi dan Rasul diutus dengan membawa Islam yang merupakan agama di sisi Allah. Para ahli kitab mengetahui kesatuan agama ini. Mereka juga mengetahui bahwa para Nabi diutus untuk saling membenarkan dalam hal agama yang diutusnya. Mereka (para Nabi) tidak pernah berbeda dalam masalah aqidah. Tetapi para ahli Kitab sendiri berpecah belah dan berdusta atas nama para Nabi, kendatipun telah datang pengetahuan tentang hal itu kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka, sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah di atas.

Referensi:
Sirah Nabawiyah – Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy
http://jeprie.wordpress.com/2012/02/28/amar-maruf-nahi-unkar-dalam-islam/