30 Days Writing Challenge | Day 5

626cbfa18e9c6a890850240ed7f59849

I basically would love to travel to any where in any part of the world. Of course it depends on the budget, time, etc. However, if I have the opportunity to choose any place to travel without thinking about all of those classic matters, these are the place I’d love to visit.

Day 5: List 5 places you want to visit

Continue reading

Advertisements

Singapore Days: November 2013

9f33311d6f289e7e4287958bd39b8318

Yes you read the title right. November 2013. Congrats to all of my subscribers, you got notified for this super late blog post! lol. I wrote this 2 years ago and I forgot to publish it. I’m such a bad blogger I know, haha.. I think this post is still a little bit undone, so I’ll be touching up here and there in the near future. I just can’t handle to keep it for myself any longer. Enjoy!

Continue reading

Jalan Kaki

Siapa sangka jalan kaki sepanjang jalan Juanda di siang bolong sambil minum Bubble Tea dingin dan nyari kantor pos bisa begitu menarik? Walaupun lama-lama rasanya jadi pengen pingsan saking panas & teriknya. Biasanya kalo sepanas itu saya bisa langsung mimisan. Untungnya tadi nggak. Jalan kaki itu menyenangkan kalau sepanjang jalan berjejer buanyak pohon dan kita juga bisa memperhatikan benda-benda yang kita temukan di sepanjang jalan. Contohnya, saya tadi nemu tempat fotokopi namanya Minolta Photocopy. Bukan Photography ya, tapi Photocopy. Penanda tokonya udah jadul banget dan sebelahan sama toko buku Elvira. Tempatnya seperti apa saya ngga tau juga sih, ngga mampir soalnya.
Bagi yang tertarik jalan-jalan seperti ini, saya punya beberapa tips:
1. Bagi yang tidak berjilbab, pakailah topi.
2. Jangan lupa pake sunblock. Bukan masalah kulitnya jadi item atau ngga sih, tapi ini masalah kanker kulit.
3. Pakailah ransel. Bukan masalah keren atau ngga keren, tapi beban bawaan jadi rata di pundak kanan dan kiri. Sehat!
4. Bawa minum!
5. Kalo mau santai, pakailah sendal jepit.
6. Be impulsive. Just do it.

Tips khusus buat cewek:
Pake baju yang LONGGAR dan yang pake jilbab panjangkanlah jilbabnya. Ini hasil riset dan pengamatan saya pribadi ya. Soalnya udah sekitar 10 TAHUN terakhir saya selalu memerhatikan fenomena ini:
Misalnya ada perempuan jalan kaki di jalan pake baju biasa (contoh: jeans pinsil dan kaos) yang pas badan (ngga ngetat ya, pas badan aja) kemudian melewati seorang atau segerombolan laki-laki. Ngga ngaruh apakah perempuan ini jalan sendiri atau bareng temen-temennya. Ngga ngaruh juga dia ini cantik atau ngga. Banyak laki-laki yang ‘otomatis’ menundukkan kepala masing-masing dan menaruh pandangannya di bagian belakang bawah agak ke tengah bagian tubuh perempuan itu. Bokong. Dari bokong, matanya menjalar ke atas, ke bawah, ke atas, ke bawah lagi. Si perempuan mungkin ngga sadar diliatin (pasti ngga sadar sih), tapi saya sadar betul kemana bola mata seseorang berkelana. Saya ngga bego, udah 10 tahun saya memerhatikan fenomena ini, sejak kelas 6 SD.
TAPIII… saya ngga bilang semua laki-laki ya, saya bilangnya banyak laki-laki. Segala usia dan profesi, dari yang pake seragam SMA, mas-mas yang duduk di sebelah supir angkot, bapak-bapak beruban di warung kopi pinggir jalan, sampe yang berdasi sekalipun.
Ini adalah tingkah laku paling minimal yang mereka dilakukan. Kadang disertai dengan siulan atau memanggil-manggil ngga jelas gitu. Yang jelas (mungkin) tujuannya adalah memancing perempuan untuk bereaksi terhadap gangguan-gangguan itu. Nah ini, saya ngga ngerti isi otak laki-laki itu seperti apa dan kenapa bisa seperti itu. Dan ngga mau tau juga isinya apa.
Yang jelas menurut saya itu adalah pelecehan seksual. Titik.
Oke, itu adalah studi kasus seorang perempuan yang memakai baju biasa dan pas badan. Ngga perlu lah ya saya jelasin kalo kasusnya adalah perempuan pake rok mini dan baju ketat. Kira-kira aja sendiri.
Jadi, pakailah baju yang longgar. Ngga apa-apa kok kalo disangka rapper. Temen saya aja pernah manggil saya rapper karena pakaian saya mirip rapper-rapper laki-laki berkulit hitam. Bahkan ada juga temen saya yang mimpi saya nge-rap. Oh oke, maap, emang ngga penting. Yang jelas sih kalo jilbab saya disuruh diiket-iket di leher gitu… it’s absolutely a BIG no no no. Saya tolak mentah-mentah. MENTAH.

Nevertheless,
walaupun kita tinggal di dunia yang seperti ini, saya yakin masih ada laki-laki yang baik hatinya dan menghormati perempuan sebagaimana ia menyayangi ibu dan saudaranya yang perempuan. Seorang perempuan pun tidak butuh jadi seorang feminis jika ia adalah seorang muslimah. Kenapa? Karena Islam sudah melindungi dan memenuhi hak-hak, kebutuhan masing-masing gender sesuai peran dan sifat alamiahnya. Yang penting adalah apakah sang muslimah mengikuti konsepsi Islam dengan baik? bukan sekedar menjudge agamanya sendiri berdasarkan perilaku orang yang menjalankan Islam secara asal-asalan.

Saya ngga akan minta maaf bagi yang tersinggung. Silahkan tersinggung.

Pontianak :)

“Karena kita orang melayu, di akhir ceramah terawih ini, saya akan membacakan sebuah pantun..”
Hehe, saking ‘terpana’nya saya dengan kalimat itu, saya bahkan tidak begitu ingat bagaimana bunyi pantunnya.
Jadi ini ya rasanya mudik :)

Di jakarta, saya tak pernah merasa ‘diklaim’ suku tertentu. ‘Kebudayaan’ yang saya rasakan sebatas permainan tradisional dan lagu daerah yang diajarkan di sekolah dasar. Bahasa pun bahasa Indonesia, tanpa aksen apapun. Oh! apakah sinetron Si Doel Anak Sekolahan boleh dihitung sebagai ekspresi kebudayaan betawi? Entahlah, pokoknya selama sekolah, menurut saya semua orang terlihat dan terdengar sama.

Pertama kali saya ‘ngeh’ dengan warna-warni suku di Indonesia adalah ketika kuliah. Di semester pertama, saya sering duduk di bagian depan kelas. Pada suatu ketika, saya mendengar beberapa mahasiswa yang duduk di belakang saya mengobrol dengan logat tertentu. Bukan betawi. Ketika saya mengintip dari balik bahu, ternyata yang mengobrol adalah teman-teman dari Riau. Hmm, tahukah kenapa ini mengganggu saya? Karena saya familiar dengan logat ini tapi saya tidak ingat dimana saya sering mendengarnya.
Beberapa hari kemudian, setelah mendengarkan dengan seksama dan terus mengingat-ingat, akhirnya saya tahu: saya sering mendengar logat ini di RUMAH. Barulah saya tahu bahwa itulah ‘melayu’ yang sering disebut-sebut (alm) kakek. Logat itu tak begitu saja ada di rumah, tapi dibawa dari daerah yang bahasa sehari-harinya seperti itu. Melayu di Pontianak sebenarnya adalah pendatang dari Riau. Jadi, ya, kurang lebihnya sama.

image